Sebuah survei baru-baru ini di Korea Selatan menemukan bahwa lebih dari setengah penduduk negara tersebut mengalami kebencian yang berkepanjangan, dengan mayoritas responden percaya bahwa dunia ini tidak adil. Hasil survei dari Sekolah Pascasarjana Kesehatan Masyarakat Universitas Nasional Seoul menunjukkan bahwa 54,9% responden mengalami kebencian kronis, dengan 12,8% menunjukkan tingkat yang parah.
Proporsi tertinggi dari individu yang mengalami kebencian parah dan berkepanjangan adalah mereka yang berusia 30-an, mencapai 17,4%. Sementara itu, tingkat kebencian terendah ditemukan di antara individu berusia 60 tahun ke atas, yaitu sebesar 9,5%. Kelompok sosial yang mengidentifikasi diri mereka sebagai kelas bawah memiliki tingkat kebencian parah tertinggi sebesar 16,5%, tetapi bahkan di antara kelas atas, 15% dari mereka melaporkan tingkat kebencian yang tinggi.
Hasil survei juga menunjukkan bahwa persepsi tentang keadilan umumnya negatif, dengan sebagian besar responden tidak setuju bahwa dunia ini adil. Tingkat kebencian berkorelasi dengan keyakinan bahwa dunia tidak adil, semakin rendah tingkat kepercayaan akan keadilan sosial, semakin tinggi tingkat kebencian. Faktor-faktor seperti penutupan pemerintah, korupsi, perilaku tidak etis oleh politisi, dan bencana yang disebabkan oleh kurangnya pengawasan keselamatan merupakan pemicu perasaan kesal yang signifikan.
Meskipun banyak responden melaporkan mengalami stres berat yang memengaruhi kesehatan mereka, sebagian dari mereka kesulitan untuk mencari bantuan profesional karena takut akan stigma atau prasangka. Temuan ini menyoroti pentingnya untuk menganggap kesehatan mental secara serius di masyarakat Korea dan menekankan perlunya perbaikan dalam program pencegahan dan manajemen kesehatan mental yang lebih praktis dan realistis.





