Kegiatan besar yang dilakukan TNI menunjukkan komitmen pemerintah dalam memastikan pengamanan sumber daya alam yang selama ini terancam oleh penambangan ilegal. Sebanyak 68 ribu pasukan TNI dari semua matra dikerahkan bukan hanya di Bangka Belitung, tapi juga di Morowali secara bersamaan pada November 2025. Langkah ini menjadi bukti keseriusan negara dalam merespons instruksi Presiden Prabowo untuk menjaga kekayaan nasional.
Dalam beberapa waktu terakhir, Presiden Prabowo sering menyoroti maraknya penambangan tanpa izin di Bangka Belitung yang berpotensi menimbulkan kerugian besar. Beliau menyebutkan bahwa sekitar 1.000 titik penambangan timah ilegal telah mengurangi produksi nasional lebih dari setengah dan berdampak pada kerusakan lingkungan. Kondisi ini menuntut aksi tegas dari pemerintah.
Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin menilai bahwa latihan gabungan kali ini bukan hanya untuk memamerkan alat utama sistem pertahanan, tetapi juga sebagai langkah nyata memperkuat kedaulatan negara. Beliau menyampaikan pentingnya peran TNI dalam penertiban aktifitas ilegal, mengingat sumber daya alam merupakan pondasi utama ekonomi dan keberlanjutan bangsa.
Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto menegaskan bahwa latihan bersama tidak hanya sekadar persiapan militer perang, tetapi juga menguji kesiapan Operasi Militer Selain Perang (OMSP) dalam menghadapi ancaman non-tradisional, seperti penambangan liar yang kini diprioritaskan setara dengan pertahanan wilayah.
Latihan terintegrasi ini diperkuat kehadiran pejabat penting dari kementerian dan lembaga terkait, di antaranya Menhan, Menteri ESDM, Jaksa Agung, hingga Kepala BPKP. Keterlibatan mereka memperlihatkan bahwa aksi penegakan hukum dan perlindungan sumber daya membutuhkan kolaborasi berbagai pihak.
Instruksi Presiden lebih lanjut meminta TNI untuk menutup akses segala bentuk pergerakan hasil tambang ilegal agar negara bisa memantau alur keluar dan masuk sumber daya secara ketat, baik di Bangka maupun Belitung. Langkah blokade ini penting sebagai bentuk pengamanan aset bangsa di wilayah strategis.
Sejumlah adegan latihan memperlihatkan kesigapan TNI, antara lain simulasi penyerangan udara oleh pesawat F-16 dan terjunnya personel Batalyon Kostrad dalam operasi lintas udara. Simulasi lainnya adalah penangkapan kapal ponton tambang ilegal oleh kapal perang TNI AL serta aksi infiltrasi Koopssus merebut lokasi galian pasir yang dijadikan target penambangan liar. Setelah kegiatan itu, pejabat tinggi TNI dan pemerintah langsung meninjau lokasi-lokasi hasil operasi di Dermaga dan desa tambang pasir.
Pemilihan Bangka Belitung sendiri sangat relevan karena daerah ini memegang peran strategis dari sisi geografi dan ekonomi; daya tarik timah dan pasir sebagai komoditas nasional harus benar-benar diamankan. Latihan besar TNI tersebut bukan hanya langkah pencegahan, tetapi simbol kekuatan negara dalam menjaga kelestarian dan kedaulatan atas kekayaan alam Indonesia.
Penguatan peran TNI di lapangan diharapkan dapat memperkokoh upaya pemerintah dalam memberantas pelaku penambangan ilegal hingga tuntas, sekaligus menegaskan posisi negara dalam melindungi aset strategis bangsa dari ancaman eksploitasi yang berpotensi merugikan negara.
Sumber: TNI Siap Perang Lawan Mafia Tambang: Latihan Gabungan Besar Di Bangka Belitung Uji Doktrin OMSP
Sumber: TNI Gelar Latihan Gabungan, Kirim Sinyal Perang Ke Mafia Tambang Ilegal





