Polemik Kebijakan Kehutanan Menguat Setelah Banjir Aceh

by -17 Views

Beberapa daerah di wilayah Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat baru-baru ini mengalami musibah banjir dan tanah longsor yang menyebabkan puluhan orang menjadi korban, serta membuat akses transportasi dan komunikasi lumpuh total. Merespon kondisi tersebut, Pemerintah Aceh menetapkan status darurat bencana selama dua minggu, mulai dari tanggal 28 November sampai 11 Desember 2025. Bencana ini tidak hanya berdampak pada kehidupan warga secara langsung, namun juga memicu perdebatan dan tudingan di media sosial.

Bencana yang terjadi ini menjadi topik hangat di dunia maya. Kali ini, peran Zulkifli Hasan, Menteri Koordinator bidang Pangan dan mantan Menteri Kehutanan, kembali menjadi sorotan. Banyak unggahan di berbagai platform digital yang menyebut-nyebut namanya dan mengaitkannya dengan bencana banjir tersebut, terutama terkait dengan kebijakan masa lalunya saat memimpin Kementerian Kehutanan.

Salah satu akun yang menggaungkan isu ini adalah milik Balqis Humaira di Instagram, yang secara terang-terangan menyebut nama Zulkifli Hasan. Dalam tulisannya, ia menuding bahwa banjir yang melanda desa-desa dan longsor yang menghancurkan rumah-rumah adalah akibat dari keputusan para pejabat dalam memberikan izin, mengatur regulasi, dan mengesahkan berbagai surat keputusan terkait kawasan hutan.

Menurut unggahan tersebut, kebijakan yang diambil pada masa lalu, khususnya saat Zulhas menjabat sebagai Menteri Kehutanan, telah membuka jalan bagi kerusakan hutan di Sumatera. Salah satu kasus yang sering diangkat adalah perubahan besar-besaran di Taman Nasional Tesso Nilo di Riau, yang sekarang sebagian besar sudah berubah menjadi kebun sawit ilegal.

Balqis menulis, “Dulu hutannya sekitar 83 ribu hektare. Hari ini yang tersisa cuma bayangan masa lalu. Sawit ilegal masuk dari segala arah. Perambahan merajalela.” Dengan runtuhnya fungsi hutan sebagai pelindung lingkungan, bencana banjir dan longsor seperti ini pun menurutnya akan makin kerap terjadi.

Kritik yang mengaitkan bencana dengan kebijakan manusia tak berhenti sampai di situ. Di media sosial, kembali beredar video dokumenter lama tahun 2013, di mana aktor Hollywood Harrison Ford secara langsung menanyakan tanggung jawab Zulkifli Hasan soal deforestasi di Indonesia, khususnya di wilayah Tesso Nilo. Ford bahkan menegur pemerintah Indonesia karena dianggap gagal mengatasi kerusakan hutan di kawasan tersebut.

Selain itu, beberapa warganet melalui akun-akun seperti @voxnetizens, mengulang narasi bahwa musibah yang menimpa Sumatera bukan semata-mata disebabkan oleh faktor alam. Mereka menegaskan bahwa kebijakan pemerintah dan pelaku usaha adalah aktor utama yang mempercepat perusakan lingkungan. “Ini bencana dari kebijakan manusia, bukan marahnya bumi. Yang bikin gemuk rekening perusahaan sawit itu manusia. Yang ngelegalin pembukaan kawasan itu manusia,” tulis mereka dalam unggahan yang mendapat banyak perhatian.

Dari opini dan diskusi publik yang berkembang, terlihat bahwa rasa keprihatinan dan kemarahan masyarakat bukan hanya tertuju pada bencana alam itu sendiri, namun juga pada praktik pengelolaan lingkungan di masa lalu yang dinilai kurang bertanggung jawab. Masyarakat menuntut evaluasi dan tindakan nyata untuk memperbaiki kerusakan hutan, agar bencana serupa tidak terus berulang dan memakan korban baru di masa mendatang.

Sumber: Zulkifli Hasan Disorot Soal Banjir Sumatera, Warganet Ungkit Teguran Harrison Ford Soal Kerusakan Hutan
Sumber: Zulkifli Hasan Dituding Jadi Penyebab Banjir Sumatera, Warganet Ungkit Momen Zulhas Diomeli Harrison Ford Soal Rusaknya Hutan