Indonesia mengalami tekanan inflasi yang rendah sepanjang tahun ini, menurut Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). BRIN memperkirakan tingkat inflasi tahun ini berada dalam kisaran 2,4%-2,8%, dipengaruhi oleh lemahnya daya beli masyarakat. Namun, BRIN memperkirakan bahwa inflasi kemungkinan akan naik pada tahun 2026, berkisar antara 2,6%-3,2%.
Peneliti Pusat Riset Ekonomi Makro dan Keuangan BRIN, Pihri Buhaerah, menyatakan bahwa tingkat inflasi sebesar 3% masih terkendali dan merupakan indikasi bahwa ekonomi sedang tumbuh. Dia mengatakan bahwa fenomena rojali, yaitu masyarakat yang berkunjung ke pusat perbelanjaan namun tidak berbelanja, merupakan respons sektor riil terhadap kondisi ekonomi dengan memberikan diskon. Faktor lain yang menyebabkan inflasi rendah adalah lemahnya daya beli masyarakat dan adanya pemutusan hubungan kerja (PHK) yang marak beberapa tahun terakhir.
BRIN memperkirakan bahwa inflasi pada tahun 2026 bisa melebihi 3% karena ekspansi fiskal pemerintah. Selain itu, risiko bencana alam yang semakin meluas di berbagai daerah dan program Makan Bergizi Gratis (MBG) juga diprediksi akan memberikan tekanan inflasi ke depan. Meskipun inflasi di atas 10% dianggap buruk, Pihri percaya bahwa inflasi sebesar 3% masih dalam batas wajar.
Melihat proyeksi tersebut, BRIN menyoroti bahwa tingkat inflasi Indonesia dipengaruhi oleh berbagai faktor eksternal dan internal. Perkiraan mereka menunjukkan kehati-hatian dalam menghadapi gejolak harga dan perlunya perencanaan yang tepat untuk menjaga stabilitas ekonomi Indonesia.





