Jumlah miliarder di Rusia mencapai rekor tertinggi sepanjang sejarah di tengah perang Ukraina. Namun, para orang super kaya di Rusia kehilangan suara politik mereka. Para oligarki yang dulunya sangat berpengaruh sekarang menjadi pendukung Kremlin setelah tekanan keras dan imbalan ekonomi yang diberikan oleh Putin untuk memastikan mereka tetap berada di barisan pemerintah. Contohnya, mantan miliarder perbankan, Oleg Tinkov, mengalami nasionalisasi banknya setelah mengkritik perang melalui Instagram. Dalam situasi ini, Putin secara sistematis melucuti pengaruh politik para oligarki yang berani melawan garis Kremlin.
Sejak pecahnya Uni Soviet, beberapa orang Rusia menjadi sangat kaya dengan mengambil alih perusahaan besar dan meraih peluang kapitalisme yang baru berkembang. Namun, Putin berhasil mengendalikan kekuatan politik para oligarki, seperti Mikhail Khodorkovsky yang dipenjara setelah mendukung gerakan pro-demokrasi. Seiring berjalannya waktu, jumlah miliarder di Rusia meningkat, terutama bagi yang terlibat dalam ekonomi perang Putin. Meskipun ada upaya sanksi barat yang mencoba membuat mereka menjadi oposisi, kekayaan mereka tetap bertahan dan tidak adanya pemberontakan.
Para miliarder yang terlibat dalam memasok militer atau mendapat keuntungan dari invasi Putin mendapatkan keuntungan besar, sementara yang menentang keputusan Putin harus meninggalkan negara beserta kekayaan mereka. Perusahaan asing yang keluar dari Rusia setelah invasi menciptakan kekosongan bagi pengusaha pro Kremlin untuk mengambil alih aset dengan harga murah. Hal ini menciptakan tentara loyalis baru yang mendukung Kremlin secara aktif. Sejauh ini, para miliarder di Rusia tetap bersatu di belakang Putin, meskipun upaya sanksi dan tekanan politik dari barat gagal untuk meruntuhkan kesatuan mereka.





