**Dagang RI-Korsel US$10,3 Miliar, Bank Woori Perkuat Layanan**

by -75 Views

Nilai perdagangan nonmigas Indonesia dan Korea Selatan yang mencapai sekitar US$10,3 miliar pada Januari-Juli 2026 membuka ruang pertumbuhan bagi bisnis perbankan, terutama melalui pembiayaan ekspor-impor, layanan trade finance, dan transaksi valuta asing.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan, nilai tersebut terdiri atas ekspor nonmigas Indonesia ke Korea Selatan sekitar US$5,2 miliar dan impor sekitar US$5,1 miliar. Arus perdagangan itu menciptakan kebutuhan layanan keuangan yang mencakup penerbitan letter of credit (L/C), pembiayaan modal kerja, bank garansi, remitansi, hingga fasilitas lindung nilai untuk mengantisipasi risiko perubahan kurs.

Peluang dari rantai pasok perusahaan Korea

Analis Phintraco Sekuritas, Aditya Prayoga, menilai peningkatan aktivitas perdagangan bilateral dapat menjadi sumber pertumbuhan baru bagi bank yang memiliki jaringan serta pemahaman terhadap ekosistem bisnis Indonesia dan Korea Selatan.

“Peningkatan transaksi perdagangan Indonesia dan Korea Selatan akan mendorong kebutuhan terhadap pembiayaan ekspor-impor, penyelesaian transaksi lintas negara, serta layanan valuta asing. Bank yang memiliki konektivitas dan jaringan bisnis di kedua negara tentu mempunyai peluang lebih besar untuk menangkap potensi tersebut,” ujar Aditya dalam keterangannya pada 21 September 2026.

Menurut dia, potensi tersebut tidak hanya berasal dari pembiayaan perusahaan besar. Bank juga dapat memperluas pembiayaan ke rantai pasok, termasuk pemasok, distributor, dan perusahaan lokal yang memiliki keterkaitan bisnis dengan korporasi Korea Selatan di Indonesia.

Peluang itu turut didukung oleh Indonesia-Korea Comprehensive Economic Partnership Agreement (IK-CEPA), yang memberikan akses pasar lebih luas sekaligus memfasilitasi perdagangan dan investasi kedua negara. Kerja sama Bank Indonesia dan Bank of Korea dalam penggunaan mata uang lokal juga dapat membantu efisiensi penyelesaian transaksi bilateral.

Posisi Bank Woori Saudara

Salah satu bank yang dinilai memiliki peluang untuk memanfaatkan perkembangan tersebut adalah PT Bank Woori Saudara Indonesia 1906 Tbk (Bank Woori Saudara atau BWS). Keterkaitan BWS dengan Woori Bank Korea menjadi salah satu modal untuk memperkuat layanan kepada perusahaan Korea Selatan yang beroperasi di Indonesia maupun perusahaan nasional yang menjalankan aktivitas perdagangan dengan Korea Selatan.

Berdasarkan laporan keuangan perseroan, kredit dalam dolar Amerika Serikat BWS mencapai sekitar Rp12,06 triliun per Juni 2026. Nilai itu setara dengan sekitar 29,9% dari total kredit perseroan yang mencapai Rp40,34 triliun.

Portofolio tersebut terutama berasal dari kredit modal kerja sebesar Rp10,21 triliun dan kredit investasi sekitar Rp1,84 triliun. Adapun kredit konsumsi dalam dolar AS tercatat sekitar Rp7,74 miliar.

Komposisi kredit itu menjadi basis bagi BWS untuk mengembangkan pembiayaan valas dalam mendukung transaksi lintas negara. Penguatan bisnis trade finance juga berpotensi menambah pendapatan berbasis komisi melalui layanan L/C, bank garansi, remitansi, transaksi treasury, serta konversi valuta asing.

Aditya mengatakan, keunggulan jaringan perbankan perlu diterjemahkan ke dalam layanan yang terintegrasi. “Keunggulan jaringan perlu diterjemahkan menjadi layanan yang terintegrasi, mulai dari pembiayaan, pembayaran, transaksi valas, hingga pengelolaan risiko. Dengan pendekatan tersebut, bank tidak hanya membiayai satu transaksi, tetapi dapat masuk ke seluruh ekosistem perdagangan nasabah,” katanya.

Source link