Film Seni Merayu Tuhan: Cermin Dewasa yang Memuaskan

by -48 Views


Adaptasi Film “Seni Merayu Tuhan” Sebagai Ruang Refleksi Emosional Generasi Muda

Di balik geger industri perfilman nasional, adaptasi layar lebar “Seni Merayu Tuhan” menawarkan sesuatu yang berbeda. Film ini tidak hanya menjadi tontonan religi konvensional, melainkan juga sebagai ruang refleksi emosional bagi generasi muda dalam menghadapi fase kedewasaan yang penuh dinamika.

Produksi oleh Wahana Kreator Nusantara, film ini akan segera tayang di bioskop di seluruh Indonesia mulai 13 Agustus 2026. Pendiri cerita, Habib Ja’far Al Hadar, atau yang dikenal sebagai Habib Ja’far, secara langsung memberikan pandangannya tentang proses kreatif dan pesan moral yang terkandung dalam film ini.

Efisiensi Proses Produksi

Habib Ja’far memilih Wahana Kreator Nusantara untuk menggarap karyanya karena reputasi produser dan kepemimpinan sutradara Cesa David Luckmansyah yang memiliki latar belakang sebagai editor film terbaik. Menurutnya, hal ini sangat penting dalam memastikan efisiensi proses produksi.

“Proses syutingnya jadi sangat efektif. Karena sutradaranya seorang editor, dari awal mindset-nya sudah editing. Dia sudah tahu bagian mana yang mau diambil dan mana yang tidak perlu,” ujar Habib Ja’far.

Pemilihan Pemeran yang Tepat

Untuk pemilihan pemeran, Habib Ja’far mempercayakan sepenuhnya kepada pihak produksi agar sesuai dengan preferensi Gen Z dan Milenial. Beberapa nama seperti Ari Irham dan Lutesha dipilih berdasarkan pertimbangan tersebut.

Sementara untuk figur pendukung, Habib Ja’far terlibat langsung dalam pemilihan. Ia memilih Onadio Leonardo dan Arie Kriting untuk peran-peran tertentu, memberikan kejutan dan dinamika tersendiri dalam film ini.

Kisah Universal tentang Proses Kedewasaan

Secara substansi, “Seni Merayu Tuhan” bukanlah sekadar narasi dogmatis. Film ini mencerminkan realitas proses menjadi dewasa, mulai dari perjuangan menemukan jati diri hingga ikatan batin antara anak dan orang tua.

Habib Ja’far yakin film ini dapat menyentuh berbagai kalangan setelah melihat reaksi emosional yang ditimbulkannya. Harapannya, pesan-pesan dalam film ini bisa sampai kepada penonton di seluruh Indonesia.

“Film ini mengajak kita mengambil hikmah untuk menghadapi ketakutan masa lalu dan mengejar masa depan, dengan meyakini ada Tuhan yang selalu kita rayu agar mau mendampingi langkah kita,” pungkasnya.

Source link: times.co.id

Source link