Harga Bitcoin Melesat, Kapitalisasi Pasar Naik Rp 6.202 Triliun!

by -33 Views

Pergerakan harga Bitcoin kembali menjadi sorotan utama dalam pasar kripto, di mana mata uang digital ini berhasil menembus angka US$ 80.000 atau setara dengan Rp 1,41 miliar pada Selasa, 25 Agustus 2026. Hal ini terjadi setelah 15 minggu sejak terakhir kali mencapai level tersebut. Dalam kurun waktu delapan hari terakhir, Bitcoin telah mengalami kenaikan sebesar 28%, yang juga membawa kapitalisasi pasarnya bertambah sebesar US$ 350 miliar atau sekitar Rp 6.202 triliun.

Harga Bitcoin Selangkah Lebih Dekat ke Miliaran Rupiah

Pergerakan yang signifikan ini membuat Bitcoin mampu menghapus kerugian yang terjadi selama tiga bulan dalam waktu lebih singkat, yakni hanya dalam satu minggu saja. Data yang dikutip dari Yahoo Finance pada Selasa (25/8/2026) turut menunjukkan bahwa saham-saham yang terkait dengan mata uang kripto juga mengalami lonjakan nilai.

Saham perusahaan seperti MicroStrategy (MSTR) yang dimiliki oleh Michael Saylor naik 36%, Circle (CRCL) mengalami kenaikan 43%, Coinbase (COIN) naik 16%, dan Robinhood (HOOD) juga mencatat pertumbuhan sebesar 12% dalam kurun waktu satu bulan terakhir.

Faktor Pendorong Kenaikan Harga Bitcoin

Dalam dua minggu terakhir, terdapat beberapa faktor pendorong yang turut memengaruhi pergerakan harga Bitcoin secara signifikan. Departemen Keuangan Amerika Serikat memutuskan untuk melipatgandakan batas maksimum operasi pembelian kembali obligasi jangka panjang menjadi US$ 4 miliar atau sekitar Rp 70,8 triliun per sesi. Keputusan ini langsung menyasar sektor obligasi Treasury dengan tenor 10, 20, dan 30 tahun sebagai respons terhadap lonjakan imbal hasil obligasi yang mencapai level tertinggi dalam 20 tahun terakhir akibat tekanan inflasi dan kenaikan harga energi.

Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, mengklaim bahwa pihaknya memiliki langkah kebijakan yang cukup besar untuk terus mengatasi permasalahan imbal hasil obligasi yang melonjak. Dengan turun langsung ke pasar sekunder untuk membeli surat utang, Departemen Keuangan berusaha untuk mengembalikan likuiditas, menstabilkan harga obligasi yang sedang merosot, serta menurunkan biaya pinjaman yang merangkak naik bagi konsumen dan pelaku bisnis.

Source link