Iran Beri Peringatan Keras: Tak Ada Ampun untuk Amerika

by -70 Views

Iran menegaskan tidak akan memberikan konsesi terkait program nuklirnya meski Amerika Serikat (AS) menyetujui proposal pembukaan kembali Selat Hormuz. Teheran menyatakan jalur pelayaran strategis itu tetap ditutup sampai seluruh tuntutannya dipenuhi Washington.

Seorang pejabat senior Iran mengatakan kepada Reuters, sebagaimana dikutip Minggu (27/9/2026), bahwa Selat Hormuz tidak akan dibuka sebelum “seluruh persyaratan Iran dipenuhi”. Pernyataan tersebut memperlihatkan bahwa akses terhadap jalur air vital itu kini menjadi bagian penting dari tekanan Iran dalam perundingan dengan AS.

Syarat Iran untuk Membuka Selat Hormuz

Proposal pembukaan kembali Selat Hormuz sebelumnya disampaikan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi. Dalam usulan itu, Teheran meminta penghentian permusuhan di seluruh lini dalam waktu tujuh hari.

Iran juga menuntut AS mencabut blokade angkatan laut terhadap pelabuhan-pelabuhannya, mencairkan dana talangan yang dibekukan, serta menghapus sanksi terhadap sektor minyak. Selama tuntutan tersebut belum dipenuhi, Iran tidak memberikan kepastian bahwa pelayaran di Selat Hormuz akan kembali normal.

Selat Hormuz menjadi kartu tawar utama dalam konflik yang telah berlangsung selama tujuh bulan antara Iran dan AS. Eskalasi tersebut turut diwarnai serangan rudal dan drone oleh milisi Houthi ke Arab Saudi. Bagi Washington, kebebasan navigasi di selat itu berkaitan dengan keamanan pasokan energi global. Bagi Teheran, penutupan jalur tersebut menjadi alat untuk menekan AS agar mengakhiri blokade dan tekanan ekonomi.

Perundingan Damai dan Batas Isu Nuklir

Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyampaikan optimisme bahwa kesepakatan damai dengan Washington dapat dicapai sebelum pemilihan paruh waktu AS yang dijadwalkan berlangsung pada 3 November mendatang. Pernyataan itu disampaikan di sela-sela Sidang Umum PBB di New York.

Namun, Iran menegaskan bahwa pembicaraan mendalam mengenai program nuklir baru akan dimulai setelah seluruh persyaratan yang diajukan kepada AS dipenuhi. Pejabat senior Iran tersebut mengatakan Teheran tidak akan memberikan konsesi “sepersen pun” atas hak kedaulatan nuklirnya.

Hak yang dipertahankan Iran mencakup kemampuan untuk memperkaya uranium serta penolakan terhadap tuntutan agar cadangan uranium yang sangat diperkaya atau Highly Enriched Uranium (HEU) dikirim ke luar negeri. Dua isu itu selama ini menjadi salah satu tuntutan utama Washington dalam perundingan nuklir.

AS, Israel, dan sejumlah negara Barat telah lama menuduh Iran berupaya mengembangkan senjata nuklir. Tuduhan itu dikaitkan dengan tingkat pengayaan uranium Iran yang mencapai 60 persen, jauh di atas kebutuhan sipil dan mendekati ambang 90 persen yang dikaitkan dengan penggunaan untuk senjata.

Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA) mencatat Iran memiliki sekitar 440,9 kilogram uranium yang diperkaya hingga 60 persen sebelum fasilitas nuklir Iran diserang Israel dan AS pada Juni 2025. Iran sempat membuka kemungkinan mengencerkan cadangan uranium dengan tingkat pengayaan tertinggi tersebut. Namun, dua sumber senior Iran pada Mei lalu mengatakan Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei telah menginstruksikan agar HEU negara itu tidak dikirim ke luar negeri.

Source link