Israel Menuduh RS Indonesia Menampung Anggota Hamas

by -335 Views

Israel Menuduh RS Indonesia Menjadi Tempat Persembunyian Hamas, Pengelola Membantah

Tuduhan baru kembali diarahkan Israel ke Rumah Sakit Indonesia di Jalur Gaza. Pemerintah Israel menyebut fasilitas kesehatan itu dipakai sebagai tempat persembunyian anggota Hamas dan bahkan diklaim menjadi bagian dari jaringan operasi bawah tanah kelompok tersebut. Pihak pengelola rumah sakit membantah keras tuduhan itu dan menegaskan bahwa RS Indonesia justru dibangun untuk melayani warga Gaza di tengah kondisi perang yang terus memburuk.

Klaim Israel soal markas di bawah rumah sakit

Dalam pernyataannya, juru bicara militer Israel menyebut markas Hamas berada di bawah sejumlah rumah sakit di Gaza, termasuk RS Indonesia yang terletak di Gaza bagian utara. Israel juga mengklaim citra satelit sejak 2010 menunjukkan adanya pos Hamas di sekitar lokasi rumah sakit tersebut. Menurut mereka, Hamas kerap memanfaatkan rumah sakit sebagai tempat menyembunyikan aktivitas sekaligus pelindung dari serangan udara Israel.

Tak hanya itu, Israel menuduh kelompok tersebut mengambil bahan bakar dari rumah sakit dan menyimpannya di bawah bangunan fasilitas kesehatan. Tuduhan ini menambah panjang daftar klaim Israel terhadap fasilitas sipil di Gaza yang disebut dipakai untuk kepentingan militer.

Bantahan pengelola RS Indonesia

Di sisi lain, pejabat MER-C membantah adanya terowongan di bawah rumah sakit. Mereka menegaskan bahwa tuduhan itu tidak sesuai dengan kondisi di lapangan. Menurut mereka, bahan bakar dan generator listrik memang ditempatkan di gedung terpisah yang berada dekat rumah sakit, namun itu dilakukan semata-mata demi alasan keamanan.

MER-C juga menekankan bahwa RS Indonesia dibangun untuk membantu warga Gaza, bukan untuk kepentingan kelompok bersenjata. Di tengah situasi konflik, rumah sakit itu justru menjadi salah satu titik layanan medis yang paling dibutuhkan oleh masyarakat sipil.

Satu-satunya rumah sakit yang masih beroperasi di Gaza utara

RS Indonesia saat ini disebut sebagai satu-satunya rumah sakit yang masih beroperasi di bagian utara Gaza. Beban kerja fasilitas ini meningkat tajam karena jumlah korban luka terus berdatangan, sementara pasokan medis dan bahan bakar sangat terbatas. Dalam kondisi tersebut, rumah sakit itu dilaporkan harus bekerja hingga 50 kali lipat dari kapasitas normalnya untuk menangani pasien.

Artikel ini disusun ulang berdasarkan informasi dari sumber yang telah dipublikasikan sebelumnya.