Aktivitas manufaktur Indonesia kembali berada dalam tekanan pada Agustus 2026. Data Purchasing Managers’ Index (PMI) Manufaktur Indonesia yang dirilis S&P Global tercatat 49,8, turun dari 50,2 pada Juli 2026. Penurunan tersebut menandai kinerja industri yang kembali terkontraksi setelah pada bulan sebelumnya masih berada di level 50,2.
Ketua Umum Kadin DKI Jakarta Diana Dewi mengatakan tekanan itu tidak terjadi secara merata di seluruh sektor manufaktur. Sejumlah industri mengalami pelemahan, antara lain kendaraan bermotor, logam, farmasi, serta kosmetik. Namun, industri makanan dan minuman justru masih mencatatkan pertumbuhan.
Tekanan berbeda antarindustri
Perbedaan kinerja tersebut membuat kondisi manufaktur nasional tidak bisa dilihat sebagai satu gambaran yang seragam. Ada sektor yang mulai menghadapi tekanan, sementara sektor lain masih mampu mempertahankan pertumbuhan. Menurut Diana, situasi itu juga berkaitan dengan keputusan perusahaan dalam mengelola persediaan dan tingkat produksinya.
Ia menyebut sejumlah sektor belum memandang perlu melakukan pengurangan stok maupun produksi karena kondisi pada semester I-2026 masih dapat diatasi. Pertimbangan itu menjadi salah satu alasan Kadin tetap melihat peluang pemulihan pada paruh kedua tahun ini.
Kadin, kata Diana, optimistis industri manufaktur dapat kembali bangkit dan memasuki fase ekspansi pada semester II-2026. Optimisme tersebut muncul meski pelaku usaha masih berhadapan dengan tekanan biaya dan kebijakan yang memengaruhi sektor-sektor tertentu.
Biaya produksi dan risiko tenaga kerja
Salah satu tantangan utama yang dihadapi industri adalah kenaikan biaya produksi. Kenaikan tersebut belum sepenuhnya dapat diteruskan ke harga jual kepada konsumen. Kondisi ini membuat ruang gerak pelaku usaha tertekan karena biaya meningkat, sementara penyesuaian harga belum dapat direalisasikan.
Selain persoalan biaya, kebijakan pemerintah juga disebut memberi pengaruh terhadap kinerja industri. Sektor-sektor yang tidak menjadi prioritas pemerintah menghadapi tekanan lebih besar. Dalam situasi ketika bisnis tertekan dan daya beli ikut melemah, kemungkinan terjadinya pemutusan hubungan kerja (PHK) masih terbuka.
Dengan PMI yang turun ke 49,8 dan tekanan yang berbeda di setiap subsektor, pelaku usaha masih harus menghadapi ketidakpastian pada paruh kedua 2026. Di tengah kondisi tersebut, Kadin tetap memperkirakan adanya ruang bagi industri untuk pulih dan melakukan ekspansi, meski tantangan biaya produksi, kebijakan pemerintah, serta daya beli masih menjadi faktor yang harus dihadapi.
Pandangan Diana Dewi mengenai tantangan dan peluang ekspansi manufaktur Indonesia disampaikan dalam dialog bersama Andi Shalini di program Squawk Box CNBC Indonesia pada Rabu, 16 September 2026.





