Konservasi dan Pengetahuan Menjadi Dua Pilar Utama Paseban Foundation

by -95 Views

Dalam upaya memperkuat kolaborasi multipihak, Paseban Foundation menegaskan komitmennya sebagai penghubung antara aksi konservasi di lapangan dengan penyebaran pengetahuan ke masyarakat luas.

Momentum ini terlihat jelas dalam Annual Dinner 2026 mereka yang sekaligus merayakan Hari Konservasi Alam Nasional dan dua tahun berdirinya yayasan tersebut.

Dengan tema “Partnership in Cultivating and Stewarding the Biosphere Reserve”, acara ini mempertemukan elemen pemerintah, institusi internasional, perwakilan asing, lembaga legislatif, organisasi lingkungan, kalangan akademisi, dunia usaha, masyarakat sipil, hingga para pemuda yang memiliki visi menjaga lingkungan.

Pertemuan besar ini menunjukkan urgensi kerja sama lintas sektor demi melindungi kawasan Megamendung sebagai bagian penting dari Cagar Biosfer Cibodas, sehingga perlindungan alam tidak lagi hanya menjadi tanggung jawab satu pihak saja.

Pendiri Paseban Foundation, Andy Utama, menekankan pentingnya keberlanjutan dalam konservasi dengan menyediakan platform agar upaya menjaga alam dapat berlangsung lintas generasi.

Ia meyakini bahwa tanggung jawab konservasi terlalu besar jika hanya dipikul oleh satu individu atau diselesaikan dalam waktu singkat. Regenerasi penggiat konservasi menjadi kunci utama agar misi ini bisa terus berlanjut.

“Pekerjaan konservasi harus diwariskan, karena jika bergantung pada satu generasi saja, upayanya akan terputus,” jelas Andy.

Paseban Foundation membuka ruang lintas bidang, menjadi jembatan bagi kolaborasi antara pemerintah, swasta, institusi internasional, akademisi, organisasi masyarakat, dan generasi penerus.

Mereka tidak berambisi menjadi pusat seluruh gerakan, melainkan ingin menjadi simpul yang mengaitkan kekuatan, sumber daya, keahlian, dan mandat dari berbagai pihak untuk melestarikan bentang alam Megamendung secara bersama-sama.

Upaya nyata di lapangan diwujudkan Paseban Foundation lewat konservasi in-situ dan ex-situ, termasuk program perlindungan habitat, restorasi ekosistem, penanaman puluhan ribu pohon lokal, hingga penangkaran satwa seperti rusa, burung, dan mamalia lain yang terancam.

Pemantauan biodiversitas dilakukan secara intensif, termasuk penggunaan kamera jebak dan survei langsung, untuk mengidentifikasi spesies satwa dan keanekaragaman hayati kawasan tersebut.

Direktur Eksekutif Paseban Foundation, Wahdi Azmi, menjelaskan bahwa penelitian mereka telah mengonfirmasi adanya lima spesies primata endemik Jawa yang bertahan di Megamendung, serta ditemukannya satwa langka seperti Elang Jawa dan Macan Tutul Jawa.

Di tengah kepadatan penduduk Jawa, Megamendung justru menjadi benteng terakhir bagi populasi satwa liar dan ekosistem alami yang masih tersisa.

Lebih dari sekadar aksi lapangan, Paseban Foundation mengelola data, hasil survei, dan pembelajaran menjadi sumber pengetahuan yang dapat diakses untuk mendukung penelitian, keputusan kebijakan, komunikasi, dan pendidikan publik.

Transformasi pengetahuan ini diwujudkan lewat penerbitan buku, dokumentasi, film dokumenter, serta kegiatan komunikasi termasuk peluncuran “Lens Chronicle 1: Biodiversity of Paseban” dan “Kepemimpinan Bentang Alam”.

Keseluruhan upaya ini dijadikan satu ekosistem pengetahuan yang diharapkan dapat membangun kesadaran lingkungan dan menginspirasi kolaborasi berkelanjutan.

Wakil Menteri Komunikasi dan Digital, Nezar Patria, memuji konsistensi Paseban Foundation dalam meramu data lapangan dan mendorongnya menjadi bagian diskursus publik nasional.

Ia melihat potensi besar Paseban Foundation sebagai penghubung inisiatif lintas bidang untuk memperkuat pelestarian Cagar Biosfer Cibodas.

Di sisi lain, Indra Exploitasia dari Kementerian Kehutanan menggarisbawahi perlunya dukungan anak muda dalam keberlanjutan konservasi, mengingat para senior akan segera menyelesaikan tugasnya.

Menurut Indra, generasi muda perlu dipersiapkan untuk meneruskan tongkat estafet dalam mengelola alam dan warisan lingkungan bagi masa depan.

Penasihat Paseban Foundation, Wiratno, menyampaikan bahwa kolaborasi menjadi penting karena ekosistem alam tidak mengenal batas administrasi—hutan, air, satwa, dan manusia adalah satu kesatuan yang saling terkait.

Kolaborasi diperlukan untuk menyatukan kekuatan, keilmuan, dan kepentingan dari berbagai pemangku kepentingan demi menjaga keseimbangan ekosistem.

“Memimpin lanskap bukan berarti memimpin satu lembaga, melainkan menyatukan seluruh pihak agar bisa bergerak bersama menjaga satu ekosistem yang sama,” tambah Wiratno.

Melalui pendekatan kolaboratif, aksi nyata di lapangan, dan pengelolaan pengetahuan, Paseban Foundation membangun pondasi kelembagaan bagi keberlanjutan pelestarian Megamendung.

Harapannya, estafet perjuangan konservasi tidak berhenti pada satu program atau tokoh, tetapi bisa diteruskan secara berkesinambungan melalui semangat kolaborasi dan regenerasi lintas generasi.

Sumber: 21.831 Pohon Ditanam Di Megamendung, Paseban Foundation Siapkan Konservasi Hingga Generasi Berikutnya
Sumber: 21.831 Pohon Ditanam, Upaya Menjaga Biodiversitas Megamendung Terus Berlanjut