Washington, AS – Pasokan senjata dari Amerika Serikat (AS) ke Eropa telah menciptakan kecemasan di sejumlah negara Eropa setelah basis industri pertahanan AS mengalami keterbatasan stok. Krisis ini akibat penggunaan persediaan senjata Pentagon untuk konflik di Ukraina dan Iran.
Krisis Pasokan Senjata AS ke Eropa
Menurut laporan The Guardian, AS telah menunda atau bahkan membatalkan pengiriman berbagai persenjataan utama ke Eropa. Persenjataan yang terhambat termasuk rudal Tomahawk, artileri roket Himars, dan rudal Patriot Advanced Capability-3 (PAC-3).
AS sudah menggunakan sekitar 50% dari total stok rudal Patriot mereka untuk menghadapi Iran, yang mengakibatkan krisis pasokan senjata ke sekutu NATO. Bom rudal Rusia yang menewaskan warga di Ukraina semakin menunjukkan kebutuhan akan persediaan rudal pertahanan yang memadai.
Implikasi Krisis Pasokan Senjata
Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskyy, menyebut pasokan rudal pencegat yang tidak mencukupi sebagai alasan kegagalan menghadapi serangan rudal Moskow. Eropa mulai menyadari bahwa prioritas AS saat ini adalah di Asia, bukan di Eropa, sehingga kelangkaan senjata semakin bergejolak.
Kelangkaan senjata buatan AS memicu kemarahan di ibu kota Eropa, terutama setelah tuntutan AS agar anggota NATO meningkatkan anggaran pertahanan menjadi 5%. Hal ini membuat Eropa menyadari perlunya menjadi lebih mandiri dalam hal pertahanan dan keamanan.
Upaya Pemecahan Krisis Pasokan Senjata
Sebagaimana dikomentari oleh seorang diplomat Eropa, masalah ini tidak hanya disebabkan oleh krisis Iran dan Ukraina, namun juga oleh kebijakan AS yang memindahkan sumber daya militer ke Asia. Hal ini menunjukkan perlunya Eropa memperkuat pertahanan sendiri.
Mantan penasihat keamanan nasional AS, Phil Gordon, menegaskan bahwa Eropa harus meningkatkan kemandirian dan saling bergantung dalam hal pertahanan. Kesimpulan dari krisis ini adalah perlunya Eropa berinvestasi lebih dalam dalam pertahanan sendiri.
Sumber: CNBC Indonesia





