Sonko Dipecat sebagai Perdana Menteri Senegal, Krisis Utang Membuat Politik Riuh
Jakarta, CNBC Indonesia – Hubungan politik di Senegal memanas setelah Presiden Bassirou Diomaye Faye resmi memecat Perdana Menteri Ousmane Sonko. Pemecatan ini terjadi karena perbedaan pandangan dalam penanganan krisis utang negara yang semakin meruncing. Selain itu, krisis ini juga menciptakan dualisme kekuasaan yang mengakibatkan ketegangan di dalam negeri.
Krisis Utang dan Ketegangan Politik
Saat ini, Senegal tengah dilanda krisis ekonomi akibat skandal utang tersembunyi senilai US$7 miliar dari pemerintahan sebelumnya. Hal ini membuat rasio utang terhadap PDB negara tersebut melonjak menjadi 132%. Dampak dari krisis ini juga terlihat dari pemangkasan peringkat utang Senegal oleh lembaga pemeringkat terkemuka. Presiden Faye berusaha bernegosiasi langsung dengan IMF untuk menyelesaikan masalah ini, namun Sonko menentang rencana itu dan menyebutnya sebagai penghinaan bagi negara.
Sonko Kuasai Parlemen dan Siap Bertarung di 2029
Setelah dipecat, Sonko justru terpilih sebagai Ketua Majelis Nasional dengan dukungan dari Partai Pastef yang menguasai mayoritas kursi legislatif. Parlemen bahkan sudah merevisi undang-undang pemilu agar Sonko dapat maju dalam pemilihan presiden 2029. Langkah Presiden Faye untuk menunjuk perdana menteri baru, Ahmadou Al Aminou Lo, diharapkan dapat mengisi kekosongan pemerintahan dan fokus pada stabilisasi fiskal.
Perseteruan antara Presiden dan mantan perdana menteri ini membawa efek domino yang dapat mempengaruhi reputasi demokrasi Senegal. Kebuntuan legislatif membuat masa depan politik Senegal semakin tidak pasti, terutama dengan potensi gejolak sosial dari kelompok pemuda yang tidak puas dengan kebijakan pemerintah dalam menangani krisis utang.
Situasi pemerintahan di Senegal sekarang menjadi tantangan bagi institusi demokratisnya. Apakah pemerintahan dapat mengelola persaingan politik dan krisis utang tanpa mengorbankan stabilitas institusi adalah ujian yang harus dihadapi Senegal ke depan.





