Laurent Mekies Akhiri “Kutukan” Kursi Kedua Red Bull

by -47 Views

Perubahan pendekatan kepemimpinan Laurent Mekies dinilai telah mengakhiri “kutukan” kursi kedua Red Bull Racing. Pengamat sekaligus broadcaster Formula 1, Will Buxton, menyebut budaya kerja yang lebih suportif di bawah Mekies memberi ruang bagi Isack Hadjar untuk tampil maksimal sebagai rekan setim Max Verstappen.

Hadjar tampil kuat setelah kembali

Hadjar dipromosikan dari Racing Bulls ke Red Bull pada 2026 untuk mengisi kursi yang sebelumnya sulit dipertahankan oleh sejumlah pembalap. Ia sejauh ini mampu memberikan kesan positif dalam peran tersebut, terutama setelah melewati masa pemulihan akibat cedera pergelangan tangan pada jeda musim panas.

Grand Prix Azerbaijan menjadi balapan pertama Hadjar setelah kembali dari cedera. Pembalap Jepang itu langsung mencatat hasil penting dengan finis di posisi ketiga.

Buxton menilai performa tersebut tidak semata-mata berkaitan dengan kemampuan Hadjar di lintasan. Menurut dia, cara Mekies mengelola tim turut menciptakan kondisi yang memungkinkan pembalap berusia muda itu berkembang.

“Faktanya, mungkin kutukan itu sedang dihapuskan, bukan semata-mata melalui apa yang dilakukan Isack, melainkan melalui apa yang dilakukan Laurent dan budaya yang ia bangun di tim,” kata Buxton dalam podcast Up To Speed.

Red Bull lama dikenal menekan pembalap

Red Bull memang telah lama kesulitan menemukan pendamping yang mampu bertahan di sisi Verstappen. Sergio Perez, yang kini membalap untuk Cadillac, kehilangan posisinya dan digantikan Liam Lawson pada 2025. Namun, Lawson hanya menjalani dua akhir pekan balapan bersama Red Bull sebelum dikembalikan ke Racing Bulls.

Yuki Tsunoda kemudian mengambil alih kursi tersebut dan bertahan hingga akhir musim 2025. Setelah itu, Red Bull memberi kesempatan kepada Hadjar untuk naik dari Racing Bulls pada 2026.

Buxton membandingkan pendekatan Mekies dengan era sebelumnya ketika Red Bull dipimpin Christian Horner, dengan Helmut Marko sebagai salah satu figur penting dalam pengelolaan tim. Pada masa itu, menurut Buxton, tekanan dianggap sebagai cara untuk membentuk pembalap terbaik.

“Sebelumnya, di bawah Christian Horner, Dr Helmut Marko, dan generasi sebelumnya, pertimbangannya sangat kuat pada gagasan bahwa berlian ditempa di bawah tekanan,” ujar Buxton.

Ia menilai Mekies justru mengurangi tekanan tersebut dan membangun lingkungan yang lebih aman bagi Hadjar. Pembalap itu, kata Buxton, dapat menjalani pemulihan selama hampir dua bulan sebelum kembali dengan kontrak baru, bukan menghadapi tekanan yang lebih besar.

“Dengan menghilangkan tekanan itu, mungkin juga dengan merangkulnya serta menjadikan tim sebagai tempat yang bahagia dan aman, Isack bisa pergi selama hampir dua bulan, memulihkan diri, lalu kembali dengan kontrak baru di tangannya,” kata Buxton.

Menurut dia, suasana tersebut mungkin membantu Hadjar mengeluarkan kemampuan terbaiknya. Buxton pun menyimpulkan bahwa kombinasi antara performa sang pembalap dan budaya baru yang dibawa Mekies dapat menjelaskan mengapa masalah kursi kedua Red Bull kini seolah mulai teratasi.

Source link