Mengapa Netanyahu Menghambat Perdamaian di Timur Tengah?

by -50 Views

Konflik di Timur Tengah kembali memanas dengan eskalasi Israel di Lebanon yang dinilai bukan sekadar operasi militer biasa. Pakar menilai langkah Tel Aviv di sana, mencerminkan “strategi jangka panjang” yang membuat perdamaian sulit terwujud dalam waktu dekat di Teluk. Menurut Presiden Pusat Studi Timur Tengah sekaligus dosen tamu Universitas HSE Moskow, Murad Sadygzade, operasi militer Israel di Lebanon telah melampaui dalih serangan presisi terhadap infrastruktur militer Hizbullah. Ia menambahkan, pembentukan “zona keamanan” pada praktiknya berarti kontrol wilayah jangka panjang, yang berpotensi untuk depopulasi wilayah perbatasan dan penciptaan fakta baru di lapangan yang sulit dibalikkan.

Eskalasi dimulai awal Maret setelah Hizbullah merespons serangan terhadap Iran. Israel kemudian melancarkan serangan udara besar dan memperluas operasi darat di Lebanon selatan. Menteri Pertahanan Israel bahkan secara terbuka menyebut target zona keamanan hingga Sungai Litani, yang mencakup hampir 10% wilayah Lebanon. Menurut Sadygzade, sinyal politik semakin jelas, terutama ketika Menteri Keuangan Bezalel Smotrich menyatakan bahwa perbatasan Israel seharusnya mencapai Sungai Litani.

Serangan besar pada 8 April menjadi titik paling berdarah. Israel mengklaim menyerang lebih dari 100 target Hizbullah di Beirut, Lembah Bekaa, dan Lebanon selatan. Namun, data otoritas Lebanon menunjukkan 254 orang tewas dan lebih dari 1.100 luka-luka. Skala kekerasan ini menunjukkan bahwa strategi Israel bukan lagi sekadar menghancurkan musuh, tapi melemahkan secara permanen melalui kontrol wilayah.

Analisis Sadygzade juga menyoroti faktor kunci: kepentingan politik domestik Israel. Menurutnya, perang menjadi instrumen penting bagi Netanyahu untuk mempertahankan kekuasaan. Di sisi lain, Hizbullah berada dalam posisi sulit dengan menghadapi serangan Israel dan tekanan dari pemerintah Lebanon yang mulai membatasi aktivitas militernya. Keseluruhan, konflik ini telah berubah menjadi proyek geopolitik jangka panjang yang tampak sulit untuk mencapai perdamaian di Timur Tengah dalam waktu dekat.

Source link