Meta Panji: Superhero Nusantara Penantang Manga Global

by -42 Views

SURABAYA — Indonesia tidak kekurangan cerita untuk dikembangkan menjadi karakter budaya populer. Tantangannya adalah menghidupkan kembali tokoh-tokoh Nusantara agar dapat berkomunikasi dengan generasi yang mengenal cerita melalui film, animasi, komik, gim, media sosial, dan komunitas digital.

Gagasan itu menjadi dasar pengembangan Meta Panji, karya yang berupaya membawa Cerita Panji ke dalam perspektif generasi masa kini. Cerita klasik tersebut tidak hanya tumbuh di Jawa, tetapi juga menyebar ke berbagai wilayah Asia Tenggara. Naskah-naskah Panji bahkan mendapat pengakuan UNESCO sebagai Memory of the World pada 2017.

Warisan budaya perlu memiliki ekosistem cerita

Penulis Novel Meta Panji, Reno Halsamer, menilai pelestarian budaya tidak cukup dilakukan dengan menyimpan artefak atau mendokumentasikan kisah lama. Menurut Reno, warisan budaya harus tetap memiliki kemampuan untuk berbicara kepada generasi yang berbeda.

“Kita memiliki begitu banyak cerita dan karakter dari Nusantara. Persoalannya, bagaimana cerita itu bisa kembali menjadi bagian dari kehidupan generasi sekarang, bukan hanya menjadi sesuatu yang mereka dengar ketika belajar sejarah,” ujar Reno, Rabu (30/9/2026).

Reno yang juga dikenal sebagai budayawan, pegiat museum, Founder D’Topeng Kingdom Group (DKG) Foundation, dan Founder Minilemon Studio itu mengatakan, Indonesia memiliki ribuan cerita. Namun, tidak semua kisah tersebut berhasil dikembangkan menjadi karakter yang mempunyai penggemar dan mampu bertahan dalam budaya populer.

“Kita tidak kekurangan cerita. Kita punya ribuan cerita. Tetapi pertanyaannya, apakah kita mampu membuat karakter-karakter itu hidup kembali dan dicintai oleh generasi muda?” katanya.

Menurut Reno, membangun karakter budaya tidak berhenti pada perubahan wajah, kostum, atau tampilan visual. Sebuah karakter memerlukan identitas, latar cerita, konflik, hubungan antartokoh, serta dunia yang membuat audiens ingin terus mengikuti perjalanannya.

“Kalau kita bicara karakter, kita tidak hanya bicara wajah atau kostumnya. Kita bicara tentang siapa dia, dunianya seperti apa, nilai yang dibawanya, konfliknya apa, dan mengapa orang ingin mengikuti perjalanannya,” jelasnya.

Panji di tengah budaya populer global

Pengakuan sejarah terhadap Panji, menurut Reno, belum otomatis menjadikannya ikon budaya populer. Generasi muda kini berinteraksi dengan karakter melalui medium yang berbeda. Karena itu, pelestarian budaya juga perlu memahami cara baru masyarakat menikmati dan membicarakan cerita.

“Anak-anak sekarang mengenal karakter bukan hanya dari buku. Mereka bisa mengenalnya dari film, gim, animasi, komik, bahkan dari media sosial. Maka, kalau kita ingin cerita Nusantara tetap hidup, kita juga harus memahami bahasa komunikasi generasi mereka,” ujarnya.

Meta Panji kemudian tidak hanya diposisikan sebagai penceritaan ulang kisah klasik. Karya ini menjadi upaya menguji kemungkinan warisan budaya masuk ke ekosistem budaya populer tanpa kehilangan identitas. Reno menyebut keseimbangan antara riset budaya dan kreativitas tetap diperlukan.

“Yang kita modernisasi adalah cara menyampaikannya. Bukan berarti akar budayanya kita hilangkan,” tegas Reno.

Ia juga tidak melihat Panji sebagai karakter yang harus dibuat menyerupai superhero global. Fokusnya adalah membangun kekuatan Panji berdasarkan identitasnya sendiri.

“Jangan berpikir bahwa kita harus membuat Panji menjadi seperti karakter dari luar. Panji harus tetap menjadi Panji. Yang perlu kita pikirkan adalah bagaimana membuat Panji bisa dipahami, disukai, dan relevan bagi generasi sekarang,” kata Reno.

Dari museum menuju imajinasi generasi baru

Menurut Reno, karakter tidak dapat berkembang tanpa ekosistem yang melibatkan kreator, pembaca, penonton, komunitas, dan karya-karya turunan. Dalam konteks itu, Meta Panji membuka kemungkinan agar satu cerita berkembang ke berbagai bentuk ekspresi dan melahirkan fandom.

Latar belakang Reno sebagai pegiat museum turut memengaruhi gagasan tersebut. Ia menilai museum tidak hanya berfungsi menyimpan benda masa lalu, tetapi juga dapat mempertemukan warisan budaya dengan imajinasi masa depan.

“Benda budaya tidak cukup hanya kita simpan. Kita harus membuat generasi berikutnya punya alasan untuk datang, melihat, bertanya, kemudian merasa bahwa warisan itu juga bagian dari mereka,” ujarnya.

Reno menyebut Panji sebagai salah satu pintu masuk untuk mengembangkan karakter dan cerita Nusantara lainnya. Pekerjaannya mencakup riset, pembangunan dunia cerita, pengembangan medium, hingga pembentukan komunitas yang dapat menjaga keberlanjutan karakter tersebut.

“Panji ini salah satu contoh. Setelah itu, kita bisa melihat begitu banyak karakter dan cerita Nusantara lainnya. Pertanyaannya, apakah kita mau mengembangkan semuanya secara serius?” kata Reno.

Source link