Paseban Foundation Bangun Konservasi Berbasis Bentang Alam

by -94 Views

Pada tanggal 9 Juni 2026, kawasan Megamendung di Kabupaten Bogor menerima perhatian khusus ketika Direktur Jenderal KSDAE, Satyawan Pudyatmoko, mengadakan kunjungan kerja ke lokasi tersebut. Dalam agenda ini, ia menghadiri peresmian beberapa fasilitas penting, yakni Lembah Aviary Paseban dan Penangkaran Rusa Timor, sekaligus menyaksikan pelepasliaran dua ekor Elang Jawa (Nisaetus bartelsi) yang telah direhabilitasi secara intensif.

Upaya di Megamendung ini menegaskan pentingnya pendekatan konservasi berbasis bentang alam, di mana pemulihan lingkungan, pelestarian flora-fauna, pemberdayaan masyarakat dan penyebaran pengetahuan lingkungan disinergikan menjadi satu gerakan yang utuh dan berkesinambungan.

Kedua elang yang dilepasliarkan, Agni (betina) dan Beta (jantan), telah menjalani proses panjang rehabilitasi di dua lembaga konservasi, yaitu Pusat Konservasi Elang Kamojang (PKEK) dan Yayasan Konservasi Cikananga (YCKT). Dengan waktu lebih dari dua tahun, mereka dipersiapkan secara teknis dan biologis agar mampu beradaptasi kembali di habitat alami pegunungan Jawa.

Salah satu inovasi yang diimplementasikan adalah pemasangan GPS tracker pada elang-elang tersebut, sehingga para ahli dapat mengikuti pola gerak, pemanfaatan ruang, dan keberhasilan adaptasinya. Hal ini juga membantu evaluasi strategi pelepasliaran yang lebih baik ke depannya.

Kontribusi signifikan dari PKEK dan YCKT diapresiasi secara resmi oleh pemerintah, terutama Kementerian Kehutanan, yang menilai upaya penyelamatan, rehabilitasi, serta persiapan pelepasliaran sebagai bagian esensial konservasi Elang Jawa—spesies endemik sekaligus ikon penting bagi ekosistem hutan Jawa.

Namun, proses pelepasliaran satwa tidak cukup hanya dengan rehabilitasi, penting juga memastikan ketersediaan habitat yang optimal dan dukungan luas dari masyarakat lokal. Inilah sebabnya, pelibatan aktif dari pemerintah daerah, kalangan akademisi, pelaku usaha, dan berbagai pemangku kepentingan sangat ditekankan untuk menjaga keberlanjutan konservasi dan meredam dampak negatif seperti perburuan liar.

Selain aspek satwanya, Lembah Aviary Paseban yang kini diresmikan, dikembangkan sebagai sarana konservasi burung secara non-komersial. Tempat ini berfungsi sebagai ruang pendidikan lingkungan, riset ilmiah, program edukasi tentang keanekaragaman hayati, serta sebagai pusat penangkaran dan reintroduksi burung ke alam.

Dirjen KSDAE menyampaikan amanah dari Menteri Kehutanan, Raja Juli Antoni dan penghargaan pada semua pihak: Yayasan Paseban, BBKSDA Jawa Barat, Perum Perhutani, pemerintah lokal, akademisi, dan masyarakat luas yang terus menjaga kelestarian dan restorasi Lanskap Megamendung. Satyawan menegaskan bahwa kolaborasi lintas sektor membuktikan konservasi ekosistem dan pembangunan berkelanjutan dapat berjalan seiring di Megamendung.

Andy Utama selaku pembina Yayasan Paseban menggambarkan inisiatif mereka sebagai investasi jangka panjang untuk memperkuat fungsi ekologis dan memperbaiki kualitas bentang alam Megamendung. Ia menggarisbawahi bahwa mimpi mereka adalah menghidupkan kembali fungsi-fungsi ekologis kawasan ini sehingga bisa diwariskan ke generasi mendatang.

Wiratno, penasihat Yayasan Paseban, mengingatkan bahwa Megamendung berperan vital jauh di luar batas administrasi, sebab kawasan ini terhubung dengan Cagar Biosfer Cibodas dan menopang rantai fungsi ekologis penting hingga ke wilayah hilir. Menurutnya, dalam tekanan pembangunan yang pesat, menjaga kawasan konservasi menjadi kian mendesak dan bernilai tinggi.

Secara strategis, Megamendung ditempatkan sebagai benteng keanekaragaman hayati di Pulau Jawa, bukan sekadar zona konservasi, melainkan sebagai bagian tak terpisahkan dari ekosistem yang lebih luas seperti Cagar Biosfer Cibodas. Keberhasilan cagar biosfer juga bertumpu pada kestabilan zona penyangga dan transisi yang menjadi buffer kawasan inti.

Survei keanekaragaman hayati di lanskap ini membuktikan kehadiran spesies langka dan terancam seperti Elang Jawa, Owa Jawa, Surili Jawa, Lutung Jawa, Trenggiling Sunda, Banded Linsang, Landak Jawa, hingga beraneka ragam jenis burung hutan, yang semuanya menegaskan fungsi Megamendung sebagai habitat dan tempat perlindungan satwa liar.

Maka, terintegrasinya konservasi, edukasi, pemberdayaan masyarakat, dan pembangunan ekonomi yang berkelanjutan di Megamendung menjadi model nyata bagaimana berbagai pihak bisa bergerak bersama menjaga kekayaan hayati dan ekosistem secara menyeluruh. Diharapkan kolaborasi ini akan menginspirasi kawasan lain untuk membangun sistem konservasi terpadu berbasis lanskap yang kuat dan berjangka panjang.

Sumber: Paseban Foundation Perkuat Perlindungan Satwa Lewat Lembah Aviary Paseban
Sumber: Kemenhut Resmikan Lembah Aviary Dan Penangkaran Rusa Timor