Paseban Foundation Perluas Upaya Pelestarian melalui Konservasi Ex-Situ

by -115 Views

Di tengah meningkatnya tekanan pembangunan dan laju pertumbuhan penduduk di Pulau Jawa, Megamendung, Kabupaten Bogor, menjadi tempat perlindungan penting bagi kehidupan satwa langka. Paseban Foundation baru-baru ini mengumumkan keberhasilan mereka dalam mendokumentasikan eksistensi lima spesies primata terakhir yang masih bertahan di Jawa, seluruhnya hidup berdampingan di satu kawasan pegunungan Megamendung. Pengungkapan ini didapat melalui riset panjang, observasi, serta pemasangan perangkat pemantau seperti camera trap yang mendukung validitas data lapangan mereka.

Pada Annual Dinner tahun 2026 di Jakarta, seorang juru bicara Paseban Foundation menyampaikan laporan ini bertepatan dengan Hari Konservasi Alam Nasional yang juga menandai dua tahun dedikasi yayasan tersebut. Wahdi Azmi, Direktur Eksekutif yayasan, menggarisbawahi bahwa kepadatan penduduk di Jawa memang menjadikan tekanan terhadap alam kian besar, sehingga tiap jengkal habitat yang tersisa sangat berarti. Di Megamendung, ruang berukuran kecil ini tetap dapat menopang keberadaan lima primata Jawa sekaligus, menegaskan pentingnya kawasan tersebut sebagai benteng terakhir keanekaragaman hayati.

Tak sebatas itu, survei Paseban Foundation menginventarisasi pula sejumlah fauna unggulan selain primata, dari Elang Jawa yang ikonik hingga Macan Tutul Jawa, dan keanekaragaman spesies ekosistem pegunungan tropis yang luar biasa. Lokasi Megamendung juga sangat strategis karena berdekatan dengan Jakarta dan menjadi bagian dari kawasan Cagar Biosfer Cibodas, sehingga menjadi jalur transisi antara alam dan kawasan permukiman. Posisi sebagai tapal batas membuatnya rapuh terhadap ekspansi aktivitas ekonomi dan pembangunan berkelanjutan di sekitarnya.

Di kawasan penyangga biosfer, pengelolaan harus mempertimbangkan keseimbangan antara konservasi dan kebutuhan masyarakat. Megamendung terdiri dari zona inti yang dilindungi ketat, area penyangga berfungsi sebagai peredam tekanan dari luar, dan wilayah peralihan di mana aktivitas sosial ekonomi masyarakat berlangsung. Lingkungan, satwa liar, vegetasi, air, serta ruang hidup masyarakat menjadi satu kesatuan ekosistem yang saling memengaruhi. Kehadiran lima spesies primata dalam satu fragmentasi hutan menunjukkan betapa pentingnya perlindungan habitat sisa ini.

Wiratno, Penasihat Paseban Foundation, menyampaikan bahwa batas wilayah administrasi tidak selalu relevan bagi proses-proses alami yang berjalan. Aliran air tidak mengenal sekat pemerintahan dan satwa liar akan terus bergerak mencari pakan maupun habitat yang sesuai. Oleh sebab itu, kolaborasi lintas sektor mutlak dibutuhkan untuk membangun manajemen ekosistem Megamendung yang benar-benar utuh. Melibatkan pemerintah, masyarakat, sektor swasta, akademisi, dan pecinta lingkungan menjadi solusi utama menghadapi tantangan pelestarian kawasan.

Inovasi nyata Paseban Foundation salah satunya melalui aksi penghijauan masif menggunakan tanaman endemik, yang hingga Agustus 2026 telah berhasil menanam lebih dari 21.000 pohon di kawasan Megamendung. Restorasi vegetasi ini diharapkan mampu memperbaiki sistem tutupan kawasan sekaligus memperkuat daya dukung lingkungan. Mereka juga merintis upaya pelestarian ex-situ di luar habitat asli untuk menambah peluang kelangsungan hidup spesies lokal. Di fasilitas penangkaran, keberhasilan membiakkan tiga ekor anak rusa menjadi bukti nyata langkah konservasi berkesinambungan.

Seluruh rusa tersebut nantinya direncanakan dilepasliarkan ke habitat aslinya di Megamendung, tetapi proses reintroduksi tidak serta merta langsung dilakukan. Persiapan matang meliputi rehabilitasi dan penyesuaian naluri bertahan hidup, pemantauan ekosistem tujuan, hingga evaluasi dampak lingkungan sangat penting agar tidak menimbulkan masalah baru bagi populasi satwa atau habitat yang akan dihuni.

Andy Utama, sebagai pendiri Paseban Foundation, menekankan bahwa kerja pemulihan daerah Megamendung ialah agenda jangka panjang. Megamendung Century Initiative lahir untuk menginspirasi gerakan pemulihan fungsi ekologis hingga menyerupai kondisi alaminya satu hingga dua abad silam. Fokus bukan hanya mengulang masa lalu, tetapi menciptakan harmoni baru antara manusia dengan satwa dan lingkungannya, dari kestabilan air, kedekatan vegetasi, sampai interaksi hewan dalam rantai ekosistem.

Menurut Andy, memberi warisan lingkungan lestari memang butuh komitmen lebih dari sekedar satu-dua generasi saja. “Kelangsungan menjaga Megamendung adalah kerja estafet lintas generasi. Konservasi adalah pekerjaan maraton yang harus diwariskan agar semangat pelestarian bisa terus hidup di masa depan,” tutupnya.

Sumber: 5 Primata Jawa Bertahan Di Megamendung, Paseban Foundation Dorong Pemulihan Ekosistem
Sumber: Kerap Terdesak Pemukiman, Lima Primata Jawa Ditemukan Hidup Bersama Di Alam Megamendung Bogor