Perang Amerika-Iran: Pembelajaran Besar Bagi China
Jakarta, CNBC Indonesia – Perang Iran yang kini memasuki bulan ketiga mulai dipandang bukan hanya sebagai konflik Timur Tengah semata, melainkan juga “laboratorium” militer besar yang diamati secara serius oleh China. Dari serangan drone murah Iran yang mampu menembus pertahanan udara Amerika Serikat hingga penggunaan senjata presisi canggih Washington, konflik tersebut memberi Beijing gambaran nyata tentang bagaimana kemampuan militer AS bekerja di bawah tekanan perang modern.
Analisis China mengenai Konflik Iran dan Implikasinya
Para analis di China, Taiwan, hingga negara lain menilai pertempuran di sekitar Teluk Persia dalam dua bulan terakhir dapat memberikan petunjuk penting mengenai kemungkinan konflik di masa depan antara Beijing dan Washington, terutama terkait Taiwan. Namun mereka juga memperingatkan bahwa China berisiko salah membaca kekuatannya sendiri apabila hanya fokus pada keberhasilan teknologi tanpa memahami dinamika perang yang sesungguhnya.
Mengutip analisis CNN Indonesia, konflik Iran juga menyoroti fakta bahwa dalam peperangan modern, lawan selalu memiliki kemampuan beradaptasi yang bisa mengubah jalannya konflik. Pengalaman tempur, ketahanan logistik, hingga kemampuan menghadapi perang berkepanjangan disebut menjadi faktor yang sama pentingnya dengan kecangihan senjata.
Fu Qianshao, mantan kolonel Angkatan Udara China, mengatakan salah satu pelajaran terbesar dari perang Iran adalah pentingnya memperkuat pertahanan dalam negeri. Ia menilai Iran berhasil menemukan celah terhadap sistem pertahanan udara AS seperti Patriot maupun Terminal High-Altitude Area Defense (THAAD).
“Kita perlu mencurahkan upaya signifikan untuk mengidentifikasi kelemahan di sisi pertahanan kita guna memastikan kita tetap tak terkalahkan dalam perang di masa depan,” kata Fu.
Kemampuan Militer China dan Isu Taiwan
Dalam beberapa tahun terakhir, Tentara Pembebasan Rakyat China (PLA) memang berkembang pesat dalam kemampuan ofensif. China menambah rudal hipersonik yang mampu menghindari sistem pencegat dan memperkuat platform peluncurnya. Angkatan Udara PLA juga mempercepat produksi jet tempur siluman generasi kelima J-20 yang disebut setara dengan F-35 milik AS.
Lembaga pemikir Inggris RUSI memperkirakan China nantinya akan memiliki sekitar 1.000 unit J-20 untuk misi serangan presisi jarak jauh. Selain itu, Beijing juga tengah mengembangkan pembom siluman jarak jauh yang disebut mirip dengan B-2 atau B-21 milik Amerika Serikat.
Meski begitu, kemampuan pertahanan China masih menjadi pertanyaan besar. Iran, dengan teknologi yang relatif sederhana seperti drone Shahed murah dan rudal balistik berbiaya rendah, disebut mampu menembus sistem pertahanan udara Amerika di Teluk Persia.
Di sisi lain, AS melancarkan kampanye udara menggunakan kombinasi persenjataan canggih seperti F-35 dan B-2 bersama amunisi berpemandu yang lebih murah dari B-1, B-52, dan F-15. Serangan itu menghancurkan berbagai target mulai dari peluncur rudal, kapal perang, hingga jembatan. Fu menilai kombinasi serangan seperti itu harus menjadi perhatian serius Beijing.
Isu Taiwan juga menjadi sorotan utama dalam pembelajaran perang Iran. Taiwan selama ini dipandang sebagai titik konflik paling potensial antara AS dan China. Partai Komunis China berulang kali menegaskan tekad untuk melakukan “reunifikasi” dengan Taiwan, meski Beijing tidak pernah menguasai pulau tersebut.
Presiden Xi Jinping juga tidak menutup kemungkinan menggunakan kekuatan militer. Di Taiwan, para analis menilai China kini memiliki kombinasi kemampuan perang presisi berteknologi tinggi ala AS dan perang drone murah dalam jumlah besar seperti Iran.
“Roket jarak jauh dan kawanan drone pasti akan memainkan peran kunci dalam operasi militer gabungan China melawan Taiwan,” kata Chieh Chung dari Institute for National Defense and Security Research Taiwan.




