Perang Saudara di Tanah Arab Menggila, 100.000 Warga Mengungsi

by -78 Views

Lebih dari 100.000 orang mengungsi akibat meningkatnya pertempuran antara kelompok Houthi dan pasukan yang loyal kepada pemerintah Yaman yang diakui secara internasional. Konflik yang memburuk di sepanjang pantai barat negara itu juga mendorong ribuan orang menyeberangi Selat Bab al-Mandeb menuju Djibouti dengan mempertaruhkan keselamatan mereka.

Dalam pernyataan yang disampaikan Selasa dan dikutip Al Jazeera, Rabu (16/9/2026), Badan Pengungsi PBB (UNHCR) menyebut eskalasi kekerasan telah memicu pengungsian besar-besaran di dalam Yaman. Badan tersebut memperingatkan, situasi itu berpotensi memperluas krisis kemanusiaan dan menambah tekanan terhadap komunitas penerima yang sumber dayanya terbatas.

Kebutuhan Pengungsi Meningkat

UNHCR meminta tambahan pendanaan sebesar US$14 juta atau sekitar Rp246,4 miliar. Dana itu akan digunakan untuk memenuhi kebutuhan mendesak keluarga yang mengungsi di Yaman serta memberikan dukungan bagi mereka yang tiba di Djibouti.

“Banyak keluarga melarikan diri dalam waktu singkat dengan sedikit barang bawaan. Tempat penampungan, makanan, air bersih, perawatan kesehatan, dan layanan perlindungan adalah di antara kebutuhan yang paling mendesak, seiring dengan semakin padatnya komunitas penerima dan lokasi pengungsian,” kata UNHCR dalam pernyataannya.

Ancaman pertempuran juga dihadapi lebih dari 65.000 pengungsi dan pencari suaka yang terdaftar di Yaman. Sebagian besar dari mereka berasal dari Somalia dan Ethiopia.

Dalam empat hari terakhir, lebih dari 2.400 orang dilaporkan telah menyeberangi Bab al-Mandeb menuju Djibouti. Mayoritas adalah perempuan, anak-anak, dan lanjut usia. Mereka menempuh perjalanan laut dalam kondisi sulit setelah meninggalkan wilayah yang dilanda pertempuran.

“Orang-orang tiba setelah perjalanan laut yang sulit, banyak yang kelelahan, tertekan, dan membawa sedikit barang yang bisa mereka bawa,” ujar Perwakilan UNHCR di Djibouti, Sandrine Desamours.

Keluarga Terpisah dan Warga Melarikan Diri

Konflik tersebut memaksa banyak keluarga meninggalkan rumah secara mendadak. Aisha Muhammad, salah seorang pengungsi, mengatakan dirinya terpaksa berpisah dari lima anaknya ketika desa mereka di dekat kota pelabuhan Mocha diserbu Houthi pada pekan lalu.

“Mereka diblokir dan ditembaki, sehingga mereka terjebak di dalam rumah. Mereka hanya memasak nasi, tidak ada roti, tidak ada yang lain. Putri-putri saya menelepon saya mengatakan bahwa mereka ingin bergabung dengan kami, tetapi itu sudah menjadi terlalu sulit,” katanya.

Hussein Haydara, pengungsi dari Hodeidah, juga menceritakan pelariannya bersama keluarga ketika mortir dan peluru mulai beterbangan. “Anda nyaris tidak bisa membawa anak-anak dan sedikit barang kebutuhan pokok bersama Anda. Kami sangat ketakutan oleh tembakan artileri dan penembak jitu, dan Anda hanya lari secepat yang Anda bisa karena takut akan keselamatan anak-anak dan keluarga Anda,” tuturnya.

Eskalasi besar-besaran disebut bermula setelah milisi Houthi yang bersekutu dengan Iran melakukan pergerakan cepat dan merebut kendali atas seluruh pantai Laut Merah Yaman untuk memperkuat posisi mereka di sekitar Bab al-Mandeb. Selat itu merupakan jalur yang menghubungkan Laut Merah dan Teluk Aden, sekaligus menjadi rute pelayaran alternatif setelah perang Amerika Serikat melawan Iran menghambat jalur pengiriman utama di Selat Hormuz.

Source link