PLTS Buka 5,3 Juta Lapangan Kerja, SDM-Teknologi Siap?

by -53 Views

Target pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) berkapasitas 100 Gigawatt peak (GWp) dalam dua hingga tiga tahun dinilai memungkinkan, tetapi pelaksanaannya membutuhkan peta jalan yang jelas, regulasi pendukung, serta kesiapan tenaga kerja dan teknologi. Program yang diresmikan pemerintahan Presiden Prabowo itu menjadi bagian dari strategi menuju kemandirian dan swasembada energi nasional.

Program and Policy Manager CERAH, Wicaksono Gitawan, menilai target 100 GWp cukup realistis jika dibandingkan dengan potensi Energi Baru Terbarukan (EBT) Indonesia. Kapasitas potensial EBT nasional diperkirakan mencapai 3.700 GW dan sebagian besar ditopang oleh energi surya.

Meski potensi sumber energinya besar, Wicaksono mengingatkan bahwa kesiapan perencanaan menjadi faktor penting karena pemerintah menargetkan kapasitas tersebut tercapai dalam waktu relatif singkat. Rencana pengembangan perlu disusun agar proyek PLTS dapat dijalankan secara terarah dan sesuai sasaran.

Pengembangan PLTS dan pengurangan energi fosil

Perluasan kapasitas pembangkit surya juga dinilai perlu berjalan beriringan dengan upaya mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap energi fosil, termasuk pembangkit listrik tenaga uap berbahan bakar batu bara. Langkah tersebut diperlukan untuk meningkatkan daya saing dan keekonomian EBT sekaligus menekan pemakaian pembangkit fosil.

Menurut Wicaksono, percepatan implementasi energi terbarukan memerlukan penguatan regulasi. Kebijakan yang disiapkan tidak hanya harus mendukung pembangunan PLTS, tetapi juga mendorong proses penghentian bertahap atau phase out PLTU batu bara.

Ketua Umum Asosiasi Energi Surya Indonesia (AESI), Mada Ayu Habsari, memandang sasaran 100 GWp sebagai visi negara yang luar biasa. Namun, visi tersebut harus diterjemahkan ke dalam peta jalan yang jelas agar pelaksanaannya dapat berlangsung tepat dan terukur.

Kebutuhan tenaga kerja melonjak

Implementasi program PLTS berskala besar memerlukan kerja sama antara pemerintah, industri, akademisi, dan para pemangku kepentingan terkait. Pelaku usaha juga perlu memperkuat kemampuan sumber daya manusia serta penguasaan teknologi agar potensi energi surya Indonesia dapat dimanfaatkan secara optimal.

Pengembangan PLTS berkapasitas 100 GWp diperkirakan dapat membuka 5,3 juta lapangan kerja. Angka itu berbanding jauh dengan ketersediaan tenaga kerja di sektor energi surya saat ini yang baru mencapai sekitar 10 ribu orang. Kesenjangan tersebut membuat persiapan kualifikasi SDM menjadi salah satu kebutuhan utama untuk memenuhi permintaan industri.

Selain menambah dan meningkatkan kompetensi tenaga kerja, industri pendukung juga perlu dikembangkan sejalan dengan kemajuan teknologi listrik tenaga surya. Kesiapan rantai pendukung, teknologi, dan SDM akan menentukan kemampuan berbagai pihak dalam menjalankan proyek sesuai target pemerintah.

Pandangan mengenai potensi, strategi, serta kesiapan tenaga kerja dan teknologi tersebut disampaikan Wicaksono Gitawan dan Mada Ayu Habsari dalam dialog bersama Shania Alatas pada program Squawk Box CNBC Indonesia, Senin, 14 September 2026.

Source link