Prekuel 5cm: Revolusi Hati, Petualangan Bahari Tanpa CGI

by -54 Views

Setelah membawa penonton ke Gunung Semeru, waralaba 5cm akan kembali dengan lanskap yang berbeda. Soraya Intercine Films mengumumkan produksi film prekuel berjudul 5cm: Revolusi Hati dalam acara di kantor mereka, Jakarta Pusat, Selasa (22/9/2026).

Film pertama 5cm yang dirilis 14 tahun lalu dikenal sukses di pasar sekaligus memicu tren pendakian Gunung Semeru di kalangan anak muda. Untuk proyek terbaru ini, produser Sunil Soraya dan sutradara Emil Heradi menyiapkan petualangan yang berpusat pada lautan lepas, termasuk ekosistem bawah air yang eksotis dan belum banyak terjamah.

Lokasi dirahasiakan, cerita tetap berangkat dari Indonesia

Sunil mengatakan lokasi syuting masih dirahasiakan. Pemilihannya, menurut dia, dilakukan berdasarkan kebutuhan cerita, bukan semata-mata untuk mengikuti tren wisata yang sedang berkembang. Film ini tetap mempertahankan unsur Indonesia, alam, dan persahabatan yang menjadi bagian penting dari identitas 5cm.

“Cerita 5cm itu selalu ada unsur Indonesia, unsur alam, dan unsur persahabatan. Nah ini lokasinya yang dipilih masih rahasia sekarang… Tapi memang tempat-tempatnya baru, belum terlalu dijelajahi mungkin ya. Memang kita mencari ekosistem underwater dan ekosistem di atasnya segala macam. Ini yang paling cocok,” ujar Sunil.

Perpindahan latar dari pegunungan ke laut menghadirkan tantangan produksi tersendiri. Salah satu bagian tersulit adalah pengambilan adegan badai di tengah laut yang menuntut kesiapan fisik, teknis, dan logistik lebih besar.

Untuk menjaga adegan tetap realistis, tim produksi tidak sepenuhnya mengandalkan teknologi Computer-Generated Imagery (CGI). Mereka mengombinasikan pengambilan gambar di laut, pembangunan water tank berukuran besar, serta CGI untuk melengkapi bagian yang tidak dapat dilakukan secara manual.

Kolam air tersebut dilengkapi sistem hidrolik yang mampu menghasilkan ombak buatan. Menurut Sunil, metode itu memberi ruang bagi para pemain untuk berakting secara lebih maksimal sekaligus menjaga standar keamanan selama proses syuting.

“Kita sama Mas Emil mungkin merasa bahwa kita nggak terlalu suka CGI gitu. Jadi apa yang kita buat adalah tiga kombinasi. pertama kita syuting laut, kedua kita bangun water tank dengan sistem hidrolik untuk ombak. CGI-nya hanya untuk menambah hal-hal yang waktu itu tidak bisa dicapai dengan manual,” jelasnya.

Pemain muda menjalani persiapan panjang

Para pemain baru menjalani reading intensif selama tujuh hingga delapan bulan. Persiapan tersebut berlangsung ketika proyek ini juga mendapat pro dan kontra di media sosial sebelum diumumkan secara resmi.

Rachel Aseelah, pemeran Azizah, mengaku sempat merasa terlalu banyak berpikir menghadapi respons tersebut. Namun, kesibukan syuting dan suasana positif di lokasi membuatnya dapat fokus menjalani peran.

“Aku awalnya sempat overthinking. cuman kan aku orang yang nggak terlalu baca medsos banget. Abis itu karena syutingnya sibuk banget, jadi nggak kepikiran juga. Dan syutingnya juga seru, akunya juga enjoy. Temen-temennya juga seru, kru-nya semua baik,” ungkap Rachel.

Sementara itu, Roman King mendapat tantangan menghidupkan Zafran versi muda, karakter yang pada film pertama lekat dengan Herjunot Ali. Sunil memberinya ruang untuk membangun tafsiran sendiri, dengan tetap memahami perjalanan karakter tersebut menuju sosok Zafran dalam film pertama.

“Aku ngerti di film lima senti pertama itu karakternya Zafran. Aku respect ke karakter yang sebelumnya di film. Cuma pas mulai proses reading sama semua itu, Pak Sunil selalu bilang, kan ini prequel, jadi kemungkinan cari sendiri Zafran kamu kayak gimana dan bagaimana cara Zafran yang ini bisa jadi Zafran yang film pertama,” tutur Roman.

Selain petualangan bahari, produksi film ini juga menyiapkan jajaran soundtrack dengan konsep baru. Rincian mengenai lagu-lagu tersebut akan diumumkan kemudian.

Source link