Proxy Cyber Attack Jadi Sorotan Utama di IPGSC

by -241 Views

Proxy Cyber Attack Jadi Sorotan Utama di IPGSC

Ancaman siber kini tak lagi dipandang sekadar urusan teknis, melainkan sudah naik kelas menjadi persoalan geopolitik. Isu itu mengemuka dalam International Postgraduate Student Conference (IPGSC) yang digelar Program Pascasarjana Ilmu Hubungan Internasional Universitas Indonesia pada 23–24 Oktober 2025, ketika pemerintah menyoroti bagaimana kecerdasan buatan, data, dan algoritma ikut membentuk arah persaingan global.

AI Mengubah Peta Kekuatan Global

Raden Wijaya Kusumawardhana, Staf Ahli Menteri Komunikasi dan Digital Bidang Sosial, Ekonomi, dan Budaya, hadir mewakili Menteri Komunikasi dan Digital. Dalam sambutannya, ia mengajak peserta konferensi melihat bahwa teknologi digital kini menjadi fondasi penting dalam perebutan pengaruh antarnegara. Menurutnya, informasi dan algoritma telah berubah menjadi aset strategis yang menentukan posisi negara dalam kompetisi ekonomi, sosial, hingga pertahanan.

Ia juga menyinggung kemunculan DeepSeek dari Tiongkok yang disebut mengguncang dominasi perusahaan AI Barat. Dengan pendanaan sekitar 6,5 juta USD, kehadiran DeepSeek disebut ikut memengaruhi valuasi pasar AI global dari 1 miliar USD menjadi 969 juta USD. Perubahan itu, kata dia, menunjukkan betapa cepat lanskap teknologi bisa bergeser hanya dalam waktu singkat.

Ancaman Siber Kian Sulit Dibaca

Di tengah konflik Iran–Israel dan perang Rusia–Ukraina, penggunaan AI dalam sektor pertahanan juga meningkat. Teknologi ini kini dipakai untuk analisis cerdas hingga sistem militer otonom. Raden Wijaya menekankan bahwa AI bersifat dual-use, artinya bisa digunakan untuk kepentingan sipil maupun militer. Sifat ganda inilah yang membuatnya menjadi alat penting sekaligus sumber risiko baru.

Ia menjelaskan, ancaman siber masa kini tidak lagi bekerja secara linear. Infrastruktur digital, cloud computing, dan sistem AI dapat dimanfaatkan untuk efisiensi layanan publik, tetapi pada saat yang sama bisa dipakai untuk penetrasi data, sabotase, dan spionase. Serangan pun tak selalu datang dari negara besar; kelompok kriminal siber, peretas, hingga aktor non-negara dengan sumber daya terbatas juga dapat memicu kerusakan besar melalui malware, botnet, atau manipulasi sistem.

Proxy Attack dan Sulitnya Menelusuri Pelaku

Salah satu sorotan penting dalam pemaparannya adalah semakin kaburnya jejak pelaku serangan digital. Banyak aksi siber dilakukan melalui perantara, baik lewat kelompok kriminal, konsultan teknologi, maupun aktor independen. Pola ini membuat penelusuran sumber serangan menjadi jauh lebih rumit dan membuka ruang bagi proxy cyber attack yang sulit dibuktikan secara langsung.

Keberadaan AI memperparah situasi tersebut karena otomatisasi memungkinkan serangan berlangsung cepat, masif, dan minim jejak. Di sisi lain, AI juga dipakai untuk memproduksi disinformasi, propaganda digital, dan manipulasi opini publik. Dampaknya tidak berhenti pada gangguan sistem, tetapi bisa merembet ke stabilitas negara dan legitimasi institusi.

Kedaulatan Digital Jadi Pekerjaan Rumah Indonesia

Raden Wijaya menegaskan bahwa ancaman digital tidak boleh diperlakukan sebagai isu teknologi semata. Menurutnya, persoalan ini sudah menyentuh keamanan nasional, kedaulatan, dan politik domestik. Karena itu, Indonesia perlu memperkuat pertahanan siber, membangun mekanisme pencegahan, serta mempercepat lahirnya talenta digital agar tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga mampu mengendalikan arah perkembangannya.

Ia juga mendorong kebijakan digital yang menyeimbangkan inovasi dan proteksi. Investasi pada riset AI, pengembangan sumber daya manusia digital, pembangunan industri mikroprosesor, serta perlindungan infrastruktur vital disebut sebagai langkah yang harus diprioritaskan bila Indonesia ingin menjaga kedaulatan digital di tengah kompetisi teknologi global yang makin ketat.

Dalam forum IPGSC itu, pesan yang mengemuka jelas: masa depan Indonesia tidak hanya ditentukan oleh kemampuan menciptakan teknologi baru, tetapi juga oleh kesiapan negara dalam mengamankan, mengelola, dan mempertahankan kepentingan nasional di ruang digital yang semakin rentan diserang.

Artikel ini disusun ulang berdasarkan informasi dari sumber yang telah dipublikasikan sebelumnya.

Sumber: AI Dan Ancaman Siber Menguji Kedaulatan Digital Indonesia Di Tengah Persaingan Global

Sumber: AI, Geopolitik, Dan Ancaman Siber: Tantangan Kedaulatan Digital Indonesia Di Era Kompetisi Teknologi Global