Peringatan Keras Kementerian Luar Negeri Rusia terkait Serangan Teroris Besar di Mali
Kementerian Luar Negeri Rusia telah mengeluarkan peringatan keras terkait dugaan keterlibatan negara-negara Barat dalam serangan teroris terbesar yang baru-baru ini melanda Mali. Serangan tersebut, yang terjadi pada hari Sabtu, melibatkan sekitar 250 petarung yang menargetkan Bandara Internasional Modibo Keita dan pangkalan militer di sekitarnya. Al-Qaeda regional bersama kelompok pemberontak separatis Azawad Liberation Front diidentifikasi sebagai pihak yang bertanggung jawab atas serangan tersebut. Meskipun belum ada laporan resmi mengenai jumlah korban, setidaknya 16 orang dilaporkan terluka selama insiden tersebut.
Kementerian Luar Negeri Rusia menyatakan keprihatinan mendalam atas eskalasi kekerasan tersebut dan mencurigai adanya campur tangan pihak asing dalam mendukung para pemberontak. Russia Today melaporkan bahwa dinas keamanan Barat diduga terlibat dalam melatih para pemberontak. Selain itu, kehadiran militer Rusia di Mali melalui unit “Africa Corps” ikut membantu dalam menstabilkan situasi dan mengungkap bukti penggunaan tentara bayaran serta senjata dari luar Afrika.
Dugaan keterlibatan Barat ini sesuai dengan pernyataan Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov yang sebelumnya menuduh Prancis mencoba menggulingkan pemerintahan Mali. Lavrov menyinggung penggunaan metode kolonial oleh Prancis dan klaim bahwa Prancis memanfaatkan kelompok teroris serta militan Ukraina untuk menciptakan instabilitas di Mali sebagai balasan atas keputusan pemerintahan Mali yang mendekat ke Rusia. Prancis pada tahun 2022 telah mengakhiri misi kontra-terorisme di Mali setelah otoritas lokal mengusir pasukannya, namun tuduhan dukungan terhadap kelompok teroris masih merupakan isu sensitif antara kedua negara.





