Fenomena Aneh di China: Pedagang Merana, Industri Mendulang Cuan
Jakarta, CNBC Indonesia – Meskipun penjualan ritel di China mengalami penurunan drastis, sektor industri justru menikmati pertumbuhan ekspor yang menguntungkan. Hal ini menciptakan pola pertumbuhan dua kecepatan yang menarik dan unik di negara tersebut.
Konsumsi Domestik Melemah, Industri Membaik
Menurut laporan Reuters, penjualan ritel di China merosot 0,6% pada bulan Mei, sementara investasi turun dan output industri mengalami percepatan. Fenomena ini menandai perlambatan ekonomi yang terjadi di tengah-tengah ketimpangan antara sektor ritel dan industri.
Seperti yang disampaikan Biro Statistik Nasional (NBS) China, penjualan ritel yang menurun menjadi indikator ketidakstabilan ekonomi di negara tersebut. Bahkan, sektor otomotif mengalami penurunan penjualan mobil domestik untuk delapan bulan berturut-turut.
Selain itu, pengeluaran wisatawan selama libur Hari Buruh juga tidak cukup menggerakkan pertumbuhan, sementara dorongan dari program tukar-tambah barang konsumen pemerintah mulai pudar.
Industri Menjunjung Pertumbuhan
Meskipun konsumsi domestik melemah, sektor industri China memperlihatkan kenaikan output sebesar 4,5% pada bulan Mei, melampaui ekspektasi pasar. Hal ini didorong oleh investasi global dalam kecerdasan buatan (AI) dan permintaan teknologi yang tinggi.
Produsen teknologi tinggi China juga membukukan pertumbuhan output sebesar 15,1%, menunjukkan bahwa sektor industri masih kuat meskipun penurunan konsumsi.
Selain itu, pertumbuhan investasi yang di bawah ekspektasi juga mempengaruhi perekonomian China. Investasi aset tetap turun 4,1% selama lima bulan pertama tahun 2026, sedangkan investasi properti terus merosot.
Meskipun demikian, para ekonom memperkirakan bahwa ekspor yang kuat dapat terus menjadi penopang pertumbuhan ekonomi China, meskipun potensi perselisihan perdagangan dengan mitra dagang tetap menjadi risiko yang harus diwaspadai.





