China sedang berada dalam posisi yang hati-hati dalam menghadapi konflik antara Amerika Serikat dan Israel dengan Iran. Dibalik upaya diplomasi yang mereka tunjukkan dengan Iran, China juga sedang bersiap untuk pertemuan penting antara Presiden Xi Jinping dan Presiden Donald Trump bulan depan. Kehatian China dalam memperlakukan kasus Iran ini berkaitan dengan kepentingan strategis yang lebih besar, terutama sebagai importir minyak mentah terbesar di dunia yang bergantung pada pasokan energi dari Timur Tengah. Stabilitas di kawasan tersebut menjadi prioritas utama bagi Beijing.
Hal ini secara terbuka diakui oleh pihak Washington. Trump memberikan pengakuan kepada China atas peranan mereka dalam membantu mengupayakan kedatangan Iran dalam perundingan damai yang diadakan di Pakistan baru-baru ini. Meskipun demikian, China juga memanfaatkan momentum ini untuk kepentingan lainnya, terutama dalam isu perdagangan dan Taiwan, sebelum pertemuan Xi-Trump yang akan digelar.
Meskipun sedang berada dalam keadaan tekanan, China tetap intens dalam upaya diplomasi mereka. Menteri Luar Negeri China, Wang Yi, melakukan banyak panggilan dan pertemuan dengan mitra internasional untuk merangsang gencatan senjata. Selain itu, utusan khusus China, Zhai Jun, juga melakukan tur ke beberapa ibu kota negara di Timur Tengah dan Arab untuk memperkuat diplomasi China.
Meski demikian, sejumlah analis memandang bahwa pengaruh China terhadap konflik Iran masih terbatas dan posisinya dapat dipertanyakan. Meskipun China membantu mengarahkan Iran ke perundingan damai, mereka tidak memiliki kehadiran militer di kawasan Timur Tengah untuk mendukung tekanan diplomatis mereka. Para ahli hubungan internasional menilai bahwa China sedang mengalami perubahan dalam pendekatan mereka terhadap konflik ini.
Pertemuan antara Xi dan Trump diprediksi akan berfokus pada isu-isu praktis seperti pembelian pesawat Boeing dan impor produk pertanian dari AS. Namun, pembahasan tersebut kemungkinan tidak akan menyentuh isu-isu yang lebih besar seperti tata kelola kecerdasan buatan. Meskipun begitu, peluang bagi China untuk mencapai kesepakatan besar dengan Amerika Serikat dianggap tidak ada oleh sejumlah analis. Secara keseluruhan, China terus berupaya memainkan peran dan menjaga keseimbangan strategis mereka di tengah kisruh antara AS-Iran.





