Mayoritas Warga AS Tak Percaya Trump Bisa Capai Kesepakatan Nuklir Lebih Baik dari Obama
Jakarta, CNBC Indonesia – Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump terus berupaya meyakinkan publik bahwa perang melawan Iran akan menghasilkan kesepakatan nuklir yang jauh lebih baik dibandingkan perjanjian era mantan Presiden Barack Obama. Namun, survei terbaru justru menunjukkan mayoritas warga AS tidak percaya Trump mampu memenuhi janji tersebut.
Hasil jajak pendapat Washington Post-Ipsos yang dilansir CNN International, Kamis (16/7/2026) mengungkap hanya 23% warga Amerika yang yakin Trump akan menghasilkan kesepakatan nuklir dengan Iran yang lebih baik dibandingkan Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA) yang diteken pemerintahan Obama pada 2015.
Sebaliknya, sebanyak 37% responden menilai Trump justru akan menghasilkan kesepakatan yang lebih buruk dibandingkan Obama, selisih 14 poin persentase lebih tinggi daripada mereka yang optimistis terhadap Trump.
Kontroversi Perang Iran dan Reaksi Publik AS
Survei juga menunjukkan bahwa sebanyak 68% warga Amerika menilai perang melawan Iran tidak layak untuk diperjuangkan. Angka ini bahkan lebih tinggi dibanding tingkat penolakan masyarakat terhadap perang Irak maupun Afghanistan.
Tingkat ketidaksetujuan terhadap kebijakan Trump mengenai Iran kini mencapai 69%, menjelang semakin dekatnya pemilu paruh waktu. Hal ini menjadi pukulan politik bagi Trump di tengah upayanya membangun dukungan publik terhadap perang Iran yang semakin kontroversial.
Situasi semakin rumit setelah Iran mengambil alih kendali Selat Hormuz, menciptakan krisis baru yang sebelumnya tidak pernah terjadi sebelum konflik pecah. Hingga kini, perang pun belum menunjukkan tanda-tanda akan segera berakhir.
Perbandingan Kesepakatan Nuklir dan Dukungan Publik
JCPOA, yang diteken pada 2015, sebenarnya juga tidak populer di awalnya. Namun, Trump secara konsisten menyebut JCPOA sebagai kesepakatan yang gagal dan berjanji akan menghadirkan perjanjian yang jauh lebih baik, meskipun mayoritas warga AS tidak percaya Trump bisa mencapainya.
Dalam wawancara dengan Fox News pada Senin, Trump kembali menyerang kesepakatan tersebut. Ia menyebut JCPOA sebagai “kesepakatan terburuk yang pernah ditandatangani negara ini.” Trump juga telah menginvestasikan biaya politik, ekonomi, dan militer yang jauh lebih besar dibanding Obama untuk mengejar kesepakatan baru, tanpa tanda-tanda penyelesaian perang yang jelas.





