Donald Trump Pertimbangkan Penggunaan Kekuatan Militer untuk Gulingkan Rezim Kuba
Jakarta, CNBC Indonesia – Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dilaporkan mulai mempertimbangkan opsi penggunaan kekuatan militer atau “kekuatan kinetik” untuk menggulingkan rezim komunis di Kuba. Langkah ini muncul di tengah tekanan masif dari komunitas Kuba-Amerika di Florida yang menuntut perubahan rezim secara total di negara kepulauan tersebut.
Opsi Militer, Diplomasi, dan Teori Domino
Seorang sumber yang mengetahui pemikiran pemerintahan Trump mengungkapkan bahwa opsi militer sedang dipertimbangkan, meskipun fokus utama saat ini masih pada jalur diplomasi. Pemerintah AS terus berupaya membujuk rezim Kuba untuk melakukan berbagai perubahan, terutama di sektor ekonomi yang kini tengah terpuruk.
“Komunitas eksil Kuba, yang merupakan komunitas saya, menyatakan bahwa tidak akan ada perubahan ekonomi yang nyata sampai Anda memiliki perubahan politik yang nyata,” tegas Orlando Gutiérrez-Boronat, Sekretaris Jenderal Majelis Perlawanan Kuba. Sentimen ini telah meluas di kalangan pengusaha Kuba-Amerika di Amerika Serikat.
Ancaman Konsekuensi Politik dan Dukungan Masyarakat
Senator negara bagian dari Partai Republik, Ileana Garcia, bahkan memberikan peringatan keras kepada Trump mengenai konsekuensi politik jika tidak ada tindakan tegas. Ia menyatakan bahwa jika AS tidak mengambil tindakan militer atau intervensi untuk menggulingkan rezim, maka citra Trump di mata pemilih Florida akan hancur.
Jajak pendapat terbaru dari Miami Herald menunjukkan bahwa 78% eksil Kuba tidak akan puas jika hanya terjadi reformasi ekonomi tanpa perubahan politik.
Krisis Kuba dan Dampaknya terhadap Amerika Serikat
Kuba sedang menghadapi krisis hebat akibat penghentian pengiriman minyak dari Venezuela yang dipicu oleh kebijakan sanksi Amerika Serikat. Negara tersebut dilanda pemadaman listrik massal yang melumpuhkan sektor transportasi, layanan kesehatan, hingga pasokan air dan makanan bagi warga.
Meskipun demikian, risiko krisis migrasi besar-besaran tetap menjadi pertimbangan utama bagi Washington dalam memutuskan langkah serangan militer.
Kelompok oposisi Kuba di Miami terus mematangkan “Kesepakatan Kebebasan” sebagai peta jalan menuju demokrasi pasca-rezim komunis runtuh.





