Trump Frustrasi karena Kekalahan Lawan Iran: Buktinya?

by -32 Views

Aksi Militer AS dan Iran: Kritik Terhadap Sanksi Ekonomi

Jakarta, CNBC Indonesia – Eskalasi terbaru Amerika Serikat (AS) dan Iran dinilai mencerminkan meningkatnya frustrasi Washington terhadap lambatnya dampak sanksi ekonomi yang digunakan untuk menekan Teheran. Sebelumnya, Minggu, dilaporkan bagaimana AS menyerang Iran, menghancurkan dua peluncur roket Teheran di Pulau Larak ketika Negeri Syaih itu bersiap menembakkan roket bermuatan ranjau ke Selat Hormuz. Serangan itu menjadi aksi militer AS pertama yang diakui secara terang-terangan oleh AS sejak akhir Juli, sekaligus mengakhiri jeda pertempuran langsung selama sekitar satu bulan.

Langkah AS dan Balasan Iran

Iran kemudian membalas dalam hitungan jam dengan meluncurkan delapan rudal ke pangkalan udara King Hussein dan Al Azraq di Yordania, yang berhasil dicegat oleh sistem pertahanan udara pemerintah Amman. Analis keamanan maritim Ian Ralby menilai langkah tersebut dapat menjadi tanda bahwa AS ingin memecah kebuntuan setelah tekanan ekonomi belum menghasilkan perubahan yang diharapkan. Menurut Ralby, serangan di Larak kemungkinan lebih merupakan upaya mengubah situasi yang stagnan daripada tanda perubahan strategi AS secara menyeluruh.

Ancaman Menggunakan Senjata Nuklir

Di sisi lain, AS dilaporkan dapat menggunakan senjata nuklir terhadap Iran setelah gagal menggulingkan kepemimpinan negara tersebut dengan cara “konvensional”. Opsi serangan pemusnah massal ini muncul usai Washington dinilai mulai kewalahan menghadapi pertahanan Teheran di medan perang. Peringatan mengerikan ini diungkapkan oleh mantan penasihat antiterorisme presiden AS, Joe Kent, kepada podcaster Tucker Carlson. Pada bulan April lalu, Trump memang telah mengancam bahwa seluruh peradaban Iran akan mati kecuali mereka tunduk pada tuntutan Washington, termasuk ancaman melenyapkan infrastruktur sipil seperti pembangkit listrik dan jembatan.

Berdasarkan Russia Today (RT), Joe Kent menyampaikan bahwa operasi darat skala penuh atau serangan nuklir adalah opsi yang tersisa bagi AS jika Washington bertekad menyingkirkan kepemimpinan Iran. Kent juga berkomentar bahwa Trump telah gagal mencapai satupun tujuannya dalam konflik dengan Iran, meskipun telah mengerahkan seluruh kemampuan militer dan ekonomi AS. Operasi darat dianggap tidak layak mengingat luasnya wilayah dan populasi Iran.

Sanksi Ekonomi AS terhadap Iran

Dalam sebuah pergeseran taktik, Trump mengumumkan dimulainya operasi ekonomi yang menghancurkan terhadap Iran, yang ia juluki sebagai “Hari-H Ekonomi”. Menteri Keuangan AS Scott Bessent meluncurkan serangkaian sanksi baru terhadap Teheran yang menargetkan hampir 60 entitas, individu, dan kapal di berbagai yurisdiksi, termasuk 21 di antaranya yang berbasis di China. Langkah agresif ini bertujuan menjadikan Iran sebagai paria ekonomi dengan menghukum negara-negara yang menolak memutuskan hubungan.

Sebagai hasil dari serangan terbaru, diperkirakan sekitar 7 juta barel minyak per hari yang masih dikirim melalui Selat Hormuz pada pekan lalu menurun. Hal ini disebabkan oleh gangguan arus pengiriman setelah serangan AS di Pulau Larak. Claudio Galimberti dari Rystad Energy memperkirakan penurunan arus pengiriman tersebut akan menyebabkan kenaikan harga minyak dalam beberapa hari mendatang.

Source link