AS Bersiap Luncurkan Gelombang Tarif Impor Baru, Indonesia Terancam
Jakarta – Pemerintah Amerika Serikat (AS) tengah menyiapkan langkah baru dalam bentuk gelombang tarif impor yang meruncing, akan memengaruhi sejumlah negara mitra dagang, termasuk Indonesia. Kebijakan proteksionis ini akan mulai diberlakukan seiring berakhirnya tarif global sementara pada pekan ini.
Berdasarkan Channel News Asia, Utusan Perdagangan AS Jamieson Greer mengungkapkan bahwa AS merencanakan tarif baru yang akan menyasar sekitar 60 negara mitra dagang, termasuk Indonesia. Alasan di balik kebijakan ini adalah ketidaktersediaan langkah konkret dalam memerangi praktik kerja paksa di negara-negara tersebut, serta sebagai bagian dari upaya AS untuk merumuskan kembali agenda perdagangannya setelah menghadapi hambatan hukum sebelumnya.
Tarif Baru Berbasis Isu Kerja Paksa
Rencananya, tarif baru ini akan dikenakan sebesar 10%-12,5%, menggantikan tarif sementara 10% yang akan segera berakhir. Langkah ini menandai kembalinya penggunaan tarif sebagai alat tekanan ekonomi terhadap para mitra dagang AS, yang berpotensi memicu reaksi balasan dan ketegangan perdagangan global yang lebih tinggi.
Greer menjelaskan bahwa kebijakan ini mencakup sebagian besar perdagangan AS dengan negara-negara lain yang dianggap telah gagal menangani isu kerja paksa. Negara seperti Kanada, Uni Eropa, Meksiko, Taiwan, dan Inggris berisiko dikenai tarif 10%, sementara lebih dari 40 negara ekonomi utama lainnya, termasuk China, India, dan Jepang, bisa menghadapi tarif 12,5%.
Kanada dan Brasil Juga dalam Antrian
Di samping itu, AS juga akan memberlakukan tarif 25% terhadap berbagai produk asal Brasil, dengan alasan praktik perdagangan yang dianggap tidak adil. Tarif ini diperkirakan akan mulai berlaku secepatnya dan berpotensi menjadi isu politik penting di Brasil menjelang pemilihan presiden.
Sementara itu, Kanada kian tertekan dengan rencana tarif 50% dari AS yang muncul dalam pembahasan ulang Perjanjian AS-Meksiko-Kanada (USMCA). Canada dan AS belum mencapai kesepakatan, dan langkah ini diyakini sebagai upaya AS untuk memperkuat posisinya dalam negosiasi. Tidak hanya itu, tarif AS juga berdampak pada ekspor Brasil, diperkirakan mencapai lebih dari US$ 11 miliar.





