Presiden AS Donald Trump Minta Bertemu Kim Jong Un, Pyongyang Tegaskan Syarat Ketat
Presiden AS Desak Pertemuan dengan Kim Jong Un
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump secara terbuka menyatakan keinginannya untuk kembali bertemu dengan pemimpin Korea Utara, Kim Jong Un, pada akhir tahun ini. Respons dingin langsung datang dari Pyongyang, menegaskan persyaratan super ketat, meskipun kedua pemimpin itu memiliki hubungan pribadi yang luar biasa.
Trump Redam Latihan Militer AS-Korea Selatan
Langkah berani Trump dimulai dengan pemangkasan skala latihan militer gabungan AS dengan Korea Selatan. Keputusan ini diambil secara mendadak pada awal pekan karena dianggap bermusuhan terhadap Korea Utara. Washington bertekad memulai kembali pembicaraan demi mendulang kemenangan politik internasional, meski prospek perang Iran masih samar.
Meskipun Pyongyang aktif di Ukraina bersama Rusia, Trump tetap memaksakan pendekatan taktis ini. Pemerintah Korea Selatan menerima strategi ini meski ragu manfaat keamanannya.
Trump Bakal ke KTT APEC di Shenzhen
Trump mungkin mengunjungi KTT APEC di Shenzhen, China, akhir tahun ini. Hal ini membuka peluang pertemuan regional jika Korea Utara berubah pikiran. AS tetap terbuka untuk dialog tanpa prasyarat.
Kim Yo Jong menolak niat baik AS dan menegaskan kebijakan Washington memusuhi Korea Utara. Perdana Korea Selatan mencatat Korea Utara baru menembakkan rudal balistik sebagai protes.
Pyongyang Tetapkan Syarat Tinggi untuk AS
Pyongyang meminta AS mengubah kebijakannya sepenuhnya untuk melonggarkan ketegangan dan mengakui status nuklir Korea Utara. Trump harus mempertimbangkan syarat ini untuk pertemuan selanjutnya.
Sejarah menunjukkan hubungan AS-Korea Utara bergejolak akibat tuntutan AS. Sekarang, Kim Jong Un memiliki posisi tawar lebih kuat dengan dukungan ekonomi dari China dan Rusia.
Meskipun keras, pernyataan dari Korea Utara sebenarnya membuka peluang diplomasi. Pyongyang ingin postur AS yang lebih fleksibel untuk pembicaraan di masa depan.





