Uji Coba Nuklir Korut Ternyata Picu Gempa Bumi

by -58 Views

Aktivitas gempa di sekitar situs uji coba nuklir Punggye-ri, Korea Utara, terus meningkat hingga bertahun-tahun setelah ledakan nuklir terakhir pada 2017. Temuan ini mengejutkan para peneliti karena dampak seismik dari ledakan nuklir umumnya diperkirakan berlangsung singkat.

1.399 gempa tercatat di sekitar Gunung Mantap

Studi yang dipublikasikan dalam jurnal Science menganalisis data gelombang seismik yang dikumpulkan peneliti Korea Selatan dan China sepanjang 2008-2025. Hasilnya, sebanyak 1.399 gempa terdeteksi di kawasan Gunung Mantap, Provinsi Hamgyong Utara, lokasi enam uji coba nuklir bawah tanah Korea Utara pada periode 2006-2017.

Jumlah maupun magnitudo gempa di kawasan itu disebut terus meningkat. Gempa paling awal terdeteksi pada 2013, setelah uji coba nuklir ketiga. Namun, aktivitas tersebut pada awalnya masih jarang dan baru melonjak secara signifikan setelah uji coba terakhir pada 2017.

Uji coba terakhir itu diperkirakan menghasilkan ledakan berkekuatan 160 kiloton. Ledakan tersebut memicu gempa bermagnitudo 6,3 dan diyakini menyebabkan runtuhnya terowongan di area pengujian.

Kwang-Hee Kim, penulis utama studi dari Universitas Nasional Pusan, mengatakan dirinya heran karena aktivitas gempa di Gunung Mantap justru meningkat drastis dalam waktu lama setelah ledakan terakhir.

“Kami pada dasarnya sangat terkejut. Tren seismiknya begitu jelas dan linier,” ujar Kim, seperti dikutip CNN, Jumat (18/9/2026).

Ledakan diduga mengaktifkan patahan lama

Sebagian besar gempa yang tercatat tergolong lemah. Mayoritas berada pada magnitudo 2 hingga 3 dan terjadi di kedalaman dangkal. Padahal, Semenanjung Korea secara historis berada di kawasan kerak benua yang stabil. Catatan sejarah China dan Korea selama lebih dari 2.000 tahun hanya mencatat satu kejadian gempa dalam radius 100 kilometer dari lokasi tersebut.

Para peneliti menduga kombinasi antara topografi Gunung Mantap yang besar, curam, dan asimetris dengan ledakan bawah tanah telah mengaktifkan kembali patahan intraplate prasejarah. Kim menambahkan, jumlah gempa yang sebenarnya mungkin lebih tinggi karena tim hanya memasukkan peristiwa yang dikonfirmasi oleh beberapa stasiun pemantau. Data yang hanya terekam di satu atau dua stasiun dikeluarkan dari analisis.

Sunyoung Park, asisten profesor ilmu geofisika di Universitas Chicago yang tidak terlibat dalam penelitian, menilai temuan tersebut mengejutkan. Menurut dia, gangguan yang berlangsung singkat dapat memunculkan konsekuensi selama bertahun-tahun atau bahkan puluhan tahun.

Park menjelaskan, ledakan nuklir kemungkinan meretakkan batuan dalam volume besar dan membuka jalur baru bagi air tanah. Ketika air masuk ke rekahan, tekanan pori di dalam batuan meningkat. Tekanan tersebut dapat membuat patahan lebih mudah bergerak. Karena aliran air berlangsung lambat, respons seismik pun dapat muncul dengan jeda bertahun-tahun.

Fenomena serupa pernah dikaitkan dengan kerusakan properti akibat ekstraksi gas di Belanda pada 1960-an serta peningkatan aktivitas gempa di Oklahoma akibat injeksi air limbah produksi minyak dan gas pada 2009-2015. “Kerak bumi memiliki ingatan yang panjang,” kata Park.

Dampak terhadap pemantauan situs nuklir

Aktivitas gempa yang bertahan lama berpotensi menyulitkan pemantauan situs nuklir bawah tanah. Peristiwa tektonik alami dapat semakin sulit dibedakan dari aktivitas yang berkaitan dengan ledakan.

Kim menegaskan belum ada bukti uji coba nuklir baru sejak 2017. Pada 2018, jurnalis internasional juga pernah diundang untuk menyaksikan kerusakan situs tersebut. Namun, laporan Badan Energi Atom Internasional (IAEA) pada 2022 dan Badan Intelijen Pertahanan Amerika Serikat (DIA) pada 2025 menyebut Korea Utara telah memulihkan fasilitas terowongan pengujian nuklirnya.

Riset Korea Selatan juga menemukan kemungkinan tanda paparan radiasi pada sejumlah pembelot Korea Utara yang pernah tinggal di sekitar lokasi pengujian. Meski demikian, penyebab pasti tanda tersebut masih belum dapat dipastikan.

Source link