Vitalik Buterin menilai verifikasi keamanan dalam sistem kripto tidak cukup dilakukan dengan memastikan kode berjalan sesuai rancangan. Tantangan yang lebih besar justru terletak pada penentuan cakupan keamanan: apa saja yang harus dianggap sebagai ancaman dan bagian mana yang wajib dilindungi.
Menurut Buterin, keamanan perlu didefinisikan secara jelas sebelum proses verifikasi dilakukan. Tanpa batasan dan ukuran yang tegas, pemeriksaan keamanan berisiko hanya menilai sebagian kecil persoalan, sementara celah lain tetap terbuka. Ia menyebut definisi keamanan yang dibutuhkan bahkan dapat berkembang hingga lebih dari 1.000 baris kode.
Keamanan bukan hanya soal kerahasiaan pesan
Buterin menggunakan aplikasi pesan terenkripsi seperti Signal sebagai contoh. Dalam sistem semacam itu, perlindungan terhadap isi pesan agar tidak dapat dibaca pihak lain hanya merupakan satu unsur keamanan. Sistem juga harus mampu menangani pesan palsu, gangguan dalam pengiriman, aplikasi yang mengalami kerusakan, serta serangan yang mengirimkan kembali komunikasi lama.
Ancaman tersebut tidak berhenti pada aplikasi. Infrastruktur yang menopangnya juga dapat menjadi titik lemah. Server yang diretas, identitas kunci publik yang dimanipulasi, perangkat yang telah dibajak, hingga kelemahan pada sistem operasi berpotensi mengganggu keamanan komunikasi. Celah pada sistem operasi, misalnya, dapat menyebabkan kunci rahasia terbongkar.
Informasi yang bocor pun tidak selalu berasal dari isi pesan. Buterin mengingatkan bahwa ukuran pesan, identitas pengirim dan penerima, serta waktu pengiriman dapat mengungkap informasi tertentu di luar komunikasi yang sebenarnya. Karena itu, pemeriksaan keamanan harus mempertimbangkan keseluruhan sistem dan jenis informasi yang mungkin terekspos.
Verifikasi Ethereum perlu mencakup seluruh infrastruktur
Pendekatan serupa, menurut Buterin, perlu diterapkan pada Ethereum. Dalam beberapa tahun ke depan, ia mendorong verifikasi keamanan yang lebih menyeluruh, tidak terbatas pada kode blockchain.
Ruang lingkup pemeriksaan tersebut mencakup basis data, jaringan, sistem caching, sistem operasi, hingga perangkat keras. Perluasan cakupan ini mencerminkan pandangannya bahwa keamanan blockchain tidak hanya ditentukan oleh kode inti, tetapi juga oleh berbagai lapisan teknologi yang mendukung pengoperasiannya.
Kebutuhan verifikasi yang lebih luas menjadi semakin penting bagi blockchain yang terus mengembangkan kemampuan skalabilitas dan privasi. Semakin banyak komponen yang terlibat, semakin besar pula kebutuhan untuk memastikan setiap bagian bekerja aman dalam kaitannya dengan bagian lain.
Buterin melihat perkembangan kecerdasan buatan (AI) dapat membantu menjalankan pekerjaan verifikasi tersebut. AI dinilai berpotensi mendukung pemeriksaan terhadap sistem yang kompleks, meski ukuran keamanan tetap harus ditentukan terlebih dahulu agar proses yang dilakukan memiliki sasaran yang jelas dan dapat diverifikasi.





