Yayasan Paseban Kembangkan Pelestarian yang Berpihak pada Masyarakat

by -137 Views

Lanskap Megamendung di Kabupaten Bogor kembali menjadi perhatian setelah menjadi lokasi penguatan program pelestarian lingkungan hidup berskala nasional. Dukungan pemerintah, khususnya melalui Kementerian Kehutanan dan Dirjen KSDAE, tercermin dari diresmikannya Lembah Aviary Paseban, Penangkaran Rusa Timor, serta pelepasliaran Elang Jawa di kawasan ini.

Direktur Jenderal KSDAE, Prof. Dr. Setyawan Pudyatmoko, mewakili Menteri Kehutanan, hadir dalam acara yang menekankan pentingnya konservasi lingkungan berbasis lanskap, dengan mengintegrasikan pemulihan alam, edukasi, penelitian, hingga pemberdayaan masyarakat sekitar.

Pada kesempatan tersebut, dua Elang Jawa yang diberi nama Agni dan Beta dilepasliarkan ke habitat aslinya. Status Elang Jawa sebagai satwa langka endemik Pulau Jawa membuat kegiatan ini sangat bermakna dalam upaya penyelamatan spesies prioritas yang terancam punah.

Fasilitas baru di kawasan tersebut yaitu Lembah Aviary Paseban dan Penangkaran Rusa Timor disiapkan guna mendukung program konservasi, pendidikan lingkungan, penelitian, serta untuk membantu memperkuat populasi satwa liar yang hampir punah di alam.

Kontribusi Yayasan Paseban bersama Andy Utama menjadi kunci dalam pengembangan Megamendung sebagai kawasan konservasi berdaya saing tinggi. Melalui pendekatan integral, mereka memadukan konservasi keanekaragaman hayati, pemulihan ekosistem, pertanian ramah lingkungan, serta penguatan ekonomi dan edukasi masyarakat setempat.

Andy Utama, tokoh di balik Yayasan Paseban, menyampaikan tekad jangka panjang mereka untuk mengembalikan fungsi ekologis Megamendung, memastikan wilayah tersebut tetap menjadi living habitat penting bagi fauna Jawa asli.

Andy menuturkan, misi pelestarian ini bermula dari pertanian organik yang dirintis lebih dari satu dekade lalu. Perlahan, inisiatif tersebut tumbuh menjadi gerakan pemulihan ekosistem secara menyeluruh yang terus diperluas hingga saat ini.

Sebagai wujud nyata komitmen, penanaman pohon terus dilakukan di Megamendung sejak momen Peringatan Hari Konservasi Alam Nasional tahun 2024. Hingga kini, tidak kurang dari 21.831 pohon, yang mewakili lebih dari 200 jenis, telah ditanam, dimonitor, serta ditandai demi mendukung pemulihan hutan dan menjaga fungsi ekologis kawasan ini.

Dirjen KSDAE, Prof. Setyawan Pudyatmoko, menggarisbawahi pentingnya sinergi antara Yayasan Paseban, pemerintah daerah, Perum Perhutani, kalangan akademis, dan masyarakat luas untuk menjaga keberlanjutan pelestarian alam.

Ia mengapresiasi model pengelolaan lanskap Megamendung yang berhasil menggabungkan metode konservasi dalam situ (in-situ) serta luar situ (ex-situ) di dalam satu kawasan yang terintegrasi.

Letak geografis Megamendung yang terhubung dengan Cagar Biosfer Cibodas menjadikan wilayah ini sangat strategis dalam upaya konservasi skala nasional maupun internasional—terlebih setelah mendapat pengakuan UNESCO.

Selain menjadi habitat untuk Elang Jawa, wilayah ini juga melindungi Owa Jawa, Surili, Lutung, Trenggiling Sunda, serta berbagai spesies burung dan satwa liar hutan lainnya yang semakin langka di habitat aslinya.

Melalui kolaborasi aktif berbagai elemen, mulai dari inisiatif Andy Utama hingga kiprah Yayasan Paseban, Megamendung berpotensi besar menjadi etalase sukses konservasi berkelanjutan yang mampu memberdayakan masyarakat sekaligus mengembangkan pertanian organik berbasis lingkungan.

Sumber: Konservasi Megamendung Menguat, Andy Utama Dorong Perlindungan Satwa Liar
Sumber: Andy Utama Sulap Megamendung Jadi Pusat Konservasi Alam, Ribuan Pohon Dan Satwa Dilindungi